SATU HARI DI BULAN MEI

Pagi itu kutemukan
Pagi itu kurasakan
Saat itu juga tersadarkan
Kapan termulainya
Pagi itu lebih cerah
Lebih cerah dari biasanya
Lebih memandangnya
Lebih memperhatikannya

Siang itu merasakan
Siang itu terasa nyaman
Senyaman saat aku didekatnya
Senyaman saat aku berbincang dengannya

Secangkir kopi hitam
Tak sepahit kopi biasanya
Terasa manis di awal dan akhir
Kenyaman kala itu tak terduga
Bunga pun sepakat enggan layu kala itu
Seakan terlarut dalam suasana
Hingga burung burung menciumi senja
Senja memberi izin yang kala itu
Meluangkan waktu yang lebih lama

Muncullah sang rembulan
Membisik pada bintang
Menitipkan salam pada seseorang
Mengatakan tetaplah disini sampai waktu hari ini berakhir
Hari ini terlalu indah untuk dilewati begitu saja
Biarkan sang rembulan menikmati waktu membisik bersama bintang
Seperti aku dan kamu menghabiskan waktu
Biarkan hati ini tetap menikmati
Betapa indahnya waktu hari ini
Bila dihabiskan bersama denganmu
Walaupun hanya sekali saja

 

Untuk seseorang
Bersembunyi dibalik bintang
Menantang malam

PINGGIRAN RAHASIA

Hei, kamu yang ku kagumi
Hei, kamu yang sedang ku ceritakan
Hei, kamu yang membuat hatiku berdegup kencang seenaknya
Hei, Kamu yang selalu membuatku tersenyum tiada arah
Hei, kamu yang berhasil membuatku salah tingkah

Betapa banyaknya yang ingin ku tuliskan
Betapa banyak yang ingin kukatakan
Semua berhubungan dengan mu
Betapa banyak yang ingin dekat denganmu
Betapa banyak yang menyisihkan ku

Jatuh cinta pada sosok pinggir jendela
Terlihat biasa saja jika sosok itu bukan kamu
Terlihat seperti kayu membentuk jendela
Semua terlihat sama saja
Tapi lihat jika kamu yang sedang disana
Aku selalu ingin memandang kearah jendela
Ya, jendela kayu itu

Ingin kukatakan bahwa aku senang melihat mu
Ingin kukatakan bahwa aku tak lelah memandangmu seperti ini
Diam tapi ingin lagi
Berulang kali tanpa henti
Mencuri pandangan ini

Aku ingin merasa dekat
Seperti dia
Aku ingin melangkahkan kaki disampingmu
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu beri kabar
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu ajak
Seperti dia
Aku ingin menjadi pembuat foto yang isinya hanya kita berdua
Seperti dia

Tapi aku menjadi seperti ini sekarang
Hanya bisa memandang
Walau jarak kita dekat
Berusaha memulai seperti biasa
Tapi jatuh hati ini tak akan biasa lagi

Aku hanya berharap
Kita tetap seperti ini
Tetap bisa tertawa Bersama
Tetap bisa berbicara
Tetap saling menyapa
Aku ingin tetap biasa
Tanpa kamu tau sebenarnya ini bukan yang biasanya

 

 

SAATNYA AKU PULANG

Aku sudah sampai dikota ini
Sulit untuk menjelaskan
Ada ribuan kata dan kalimat
Tapi tak satupun yang menceritakanmu

Aku Ingat
Saat Pertama kalinya kita bertemu
Di sebuah taman kanak kanak
Awalnya aku tak yakin ini sebuah cinta
Karna tak seharusnya cinta ini ada
Kita adalah dua orang anak kecil
Sibuknya kita kala itu adalah bermain

Pada saat ini aku ingin meretas semua kerinduanku
Sudah lama ingatan ini terpendam
Bertahun tahun lamanya
Hingga ingatanmu tentangku telah tiada
Bila saja ada penawar untuk mengembalikan ingatanmu
Ingin kukatakan dengan jelas perasaanku saat ini

Dalam hal cinta
Sudah sewajarnya mempunyai pilihan
Melupakan dilupakan
Mencintai dicintai
Kau tentu mempunyai alasannya
Alasan untuk menghapus ingantanmu tentangku

Apa kau mendengar waktu itu
Detak jantungku terasa lepas
Saat kita duduk diatas ayunan yang sama
Aku terlihat bodoh
Ketika harus bertatapan dan berpegangan tangan
Mungkin pada kala itu kau masih kecil
Kau bahkan tidak pernah berfikir untuk mencintaiku kala itu
Bodohnya aku bila berharap pada kenangan masa kecil

Nama kecil yang kau panggilkan untukku
Aku masih mendengar suaramu saat memanggil namaku
Meskipun saat ini kau tak pernah memanggil lagi
Jangankan untuk memanggil
Kini aku sudah terlupakan
Ini tidak direncanakan
Kau sudah memilih jalanmu
Aku sudah memilih jalanku
Keputusanku adalah kembali dikota ini
Kota yang sudah menemaniku
Mengajariku untuk mengerti resiko mencintai

Maaf aku lancang menjatuhkan hatiku padamu
Kota ini kembali memelukku dengan sejuta harapan
Kita tak saling mengetahui cara Tuhan memilih jalan ini
Sudah lama keinginanku menyampaikan ini kepadamu
Mungkin kita tak akan pernah dipertemukan lagi
Jikalau memang bertemu kau mungkin hanya menganggapku sebagai orang asing
Pada akhirnya perasaanku tersampaikan lewat kata kata ini

Aku begitu mencintai kota ini
Dan tak halnya kau

-Ayu Mayangsari a.k.a Yayang-

 

 

 

Usai Di Sini

Awalnya aku tak menyadari, sebenarnya kau pun menyukai ku. Berawal dari percakapan yang kuanggap sekedar teman curhat dan merambat menjadi sebuah kalimat cinta yang awalnya ku kira hanya biasa. Teman temanku menyadari perilaku aneh mu itu dan mereka dengan senangnya memberi sebuah harapan yang semestinya aku percaya dari awal. Semua kesalahan memang terletak di awal, aku membenci diriku sendiri. Mulutku penuh bisu ketika terucap kata sayang. Apalah daya jika sekarang menoleh saja kau tak sudi. Aku rindu semua celotehmu yang sudah dengan baik menjatuhkan hatiku.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku. Tahukah kau rasanya menjadi seorang perempuan yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu? Tahukah kau rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Tahukah kau betapa menderitanya jadi seorang gadis yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Tahukah kau begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kau melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita? Tahukah kau perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan? Tahukah kau lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kau akan kembali?

“Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi. Tiga minggu lagi. Satu bulan.” Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kau pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kau betapa tersiksanya aku ketika kau tidak memberi kabarmu, ketika kau tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kau tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kau yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Apa kau tau betapa menyakitkan ketika kau menganggapku menjadi seorang yang tak pernah ada dihidupmu? Mungkin kau hanya menyalahakanku sebagai orang jahat disini. Apakah kau pernah berfikir jika banyak pencintamu diluar sana yang lebih baik dariku? Tapi aku merasa “lebih baik” ketika kudengar, kau menemukan salah satu pencintamu yang jauh lebih baik dariku. Meskipun setelahnya aku dianggap asing. Aku baru sadar, kau dulu sempat berjuang menjatuhkan hati yang penuh keangkuhan ini. Aku tak bermaksud untuk membuatmu bingung, tapi aku hanya tak tau harus bagaimana menanggapi sikapmu padaku.

 

Untukmu Rasa Terindah
Yang pernah ada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang Tamu, Siapa, Entah..

Mulanya aku sulit untuk menerima, sebab batin terlanjur luntur rasa percayanya pada cinta. Aku takut untuk mulai membuka hati, namun lebih takut lagi jika kelak tak terobati lagi luka ini.

Lalu kamu datang. Seperti kunang-kunang benderang ketika gelap malam menjelang. Kamu begitu penuh tanya saat percakapan berubah jadi nyata. Seperti memanggil cinta itu dari tiada menjadi ada. Sungguh hangat terasa, ketika adamu melipur lara. Semoga ini bukan untuk sementara, yang aku ingin ini tak ada habisnya.

Pada awalnya aku takut jatuh dan sama sekali tidak menemukan tangan untuk kurengkuh. Aku takut menggantungkan perasaan, namun malah berakhir dengan bertepuk sebelah tangan. Aku takut menitipkan hati lalu kemudian justru tersakiti.

Entah turun dari siapa rasa paling teristimewa sedunia. Tiba-tiba begitu saja menyelinap dalam kata “kita”. Sejak detik pertama segalanya bermula, aku tak pernah berpikir rasa ini akan berakhir. Entah siapa yang memulai pertama. Entah aku. Entah kamu. Yang kutahu, tiba-tiba debar sudah menyebar. Hatiku jatuh padamu tanpa sadar. Katamu, hati itu nampak kosong untuk sekian lama. Katamu, otak hampir saja lupa tentang bagaimana wujud cinta. Jauh, di lubuk hati yang hanya bisa membisu, aku ingin namaku untuk bisa terukir di sana. Meski aku tahu, jatuh cinta kepadamu memang penuh resiko. Resiko untuk terbang terlalu tinggi dengan sayap rapuh yang kau pinjami, lalu dengan atau tanpa kamu sadari kau jatuhkan lagi aku ke bumi. Ini memang terlalu tinggi, tapi ternyata sakitnya berlipat kali jika kamulah objek utama dibalik semua ini. Tak tahu rupanya dengan sel-sel ekspektasi dalam kepala ini membuat hatiku perlahan-lahan roboh. Pada akhirnya, kita seperti mengakhiri apa yang belum sempat kita awali. Karna aku tau dari awal hatimu memang untuknya. Sedangkan aku, masih tetap di sini. Membiarkan diriku sendiri terbanjiri sepi. Membiarkan hitam mataku kini rindu ditatap hitam matamu. Tentang menatap dengan malu-malu, memulai percakapan dengan suara bergetar, degup jantung yang tak sesantai biasanya, ya, itu yang kurasa ketika kita bersama. Kita sama-sama sedang menunggu waktu yang tepat, namun ia tak juga mendekat. Langkah ini sudah menujumu, sepasang mata ini menatapmu, namun semesta seperti belum berpihak kepadaku.

Bukankah perasaan kita saling berpapasan?

Lalu kapan kebersamaan ini berbuah manis?

Ataukah hanya aku yang terlalu mengenggam tinggi harapan nan menyakitkan ini. Mungkin saja..

Kamu seperti segenggam angin pada telapak tangan. Aku tahu kamu di situ, namun tak juga sanggup kamu kusentuh. . Aku tau sebenarnya ini tidak boleh terjadi kepadaku. Karena kata “Kita” bagiku, adalah sebuah ketidakmungkinan antara aku dan kamu.

Maaf jika telingamu belum sempat mendengar nama siapa yang selalu membuatku tersenyum lebar. Mungkin begini porsi bahagia yang nantinya akan kita nikmati. Maaf jika kamu terlalu menghiasi tiap rona pipi setiap kali harapan kau terbangkan dengan sangat tinggi. Dan, maaf jika aku sulit berpindah ke lain hati. Tapi, mungkin itulah cara semesta membuat hatiku dewasa. Kini, aku akan pergi melarutkan rasa. Semoga hatiku lupa caranya menyesal pernah terjatuh padamu. Semoga hatikupun lupa caranya pulang jika nanti datang saatnya meninggalkanmu. Semoga bibirku mudah mengingat bagaimana caranya tersenyum sebelum kamu yang menjadi alasannya.

H.O.P.E

Entah mengapa atau apa hanya aku yang bisa bilang “Dunia ini ngga adil”. Kenapa begitu? Di sekolah menengah atas, kita mendapat pelajaran “kecantikan itu bukan berasal dari fisik tetapi  Inner beauty”. Setuju? Kalau dikelas memang semua setuju, In real life? Cowok hanya melihat cewek dari sebatas yang ia pandang. Hidup itu keras bro, semua ekspetasi ngga semua jadi realita. Jikalau ada hanya 1 : 10000000000 hitung sendiri

Aku seorang cewek berparas pas pasan, hanya mengandalkan kemampuan yang ada. Selama 16 tahun lamanya aku hidup sebagai seorang cewek yang hanya bisa memberikan teori tentang kehidupan asmara orang lain, itu sebabnya mengapa aku katakan dunia itu ngga adil bagi para cewek atau cowok yang berparas “pas pasan”. Bener kan? Ngga usah muna, bagi kalian yang merasa cantik atau ganteng pasti masih merasa ada yang kurang dari kehidupan kalian dan selalu mengeluh ingin lebih  secara lebay sampai “alay”. Sejak aku memasuki masa pubertas, aku selalu ingin terlihat cantik  di depan semua orang tapi apalah daya fisikku yang tak memiliki kelebihan sama sekali.

Berkali – kali aku berharap agar ada orang yang mencintai secara diam diam dan menyatakan perasaan padaku disaat keadaanku juga mencintai orang itu atau kejadiannya aku dan dia saling mencintai tetapi kami pura pura tak tahu hingga akhirnya salah satu dari kedua orang itu menyatakan perasaan dan mempunyai akhir yang indah. Eitss.. tapi hal itu hanya terjadi di mimpi orang “pas pasan”, hanya orang orang yang cantik atau ganteng yang bisa mewujudkan semua itu. Bukan bermaksud rasis tetapi hanya mewakili perasaan orang orang yang mengalami kejadian serupa.

Sampai sekarang, aku masih takut berhubungan dengan namanya C.i.n.t.a . cinta itu rumit tapi menyenangkan, menyenangkan tapi adakalanya sedih, sedih membuat dada menjadi sesak dan sempit dengan  sendirinya. Itulah cinta, bagiku semua pria itu sama selama belum ada yang membuat angan angan kecilku menjadi sebuah kenyataan yang indah. Memang, ada sebagian pria tidak setuju jika membaca kata kata sebelumnya. Tapi apakah kalian sempat berfikir apa yang barusan aku tulis di paragraf 1,2, dan 3. Jika semua itu fakta, tolong sadarilah sebelum terlambat karna ada orang yang sangat tulus mencintaimu jauh disana sedangkan kau lebih memilih untuk percaya dengan orang yang belum mencintaimu setulusnya. Jika semua ini hanya opini belaka, aku meminta maaf atas apa yang kutulis dengan sebesar besarnya, aku tidak bermaksud meyinggung siapapun dalam tulisan ini.

Aku hanya ingin merasakan cinta yang sewajarnya –Aychan-