Pojok Rasa #1

Ku bermimpi dengan mata yang terbuka
Ku melayang diatas awan tanpa terbang
Dan kau datang hampir merubah semua pandanganku tentang cinta

 

Berbagai kata, cerita, dan tawa
Mengundang munculnya kisah
Mengenang harumnya perkenalan
Semerbak bunga klise yang kau tambahkan
Sajak kata mulai ada
Sejak kata perpisahan ada

 

Tak perlu berpura-pura
Jika harus terluka
Pandangan berbeda
Disetiap harinya
Membuat hati merasa
Betapa indah senyuman
Sebelum semuanya dipenuhi luka

KAMU

Hai sang cakrawala
Masihkah engkau disana?
Melihat sang senja
Sedang melihat kehangatan sang surya

Mungkin aku tak segagah cakrawala
Tak seelok senja
Dan tak sehangat  sang surya
Tapi bolehkah aku menatap sang cakrawala?
Matamu itu setajam mata elang yang terbang di antara bunga
Membuatku sejenak merasa ada

Aku ada..
Memang bukan berada diantara bunga
Melainkan aku berada diantara pinggiran rasa

Butuh kekuatan untuk pulih
Butuh waktu pula untuk memilih
Tapi itu semua hanyalah mimpi berdalih

Bagaimana aku bisa memilihmu
Jika untuk masa lalu ku saja belum sempat terjamah oleh waktu
Karena aku tau
Lelahnya bertumpu pada harapan palsu

Pada akhirnya kamu berakhir dengan kata
Perkenalan kita hanya mengkisahkan luka
Luka yang ditutupi oleh rasa cinta

Ada Sakit Yang Tak Bisa Dijelaskan 2

Ketika hati hanya bisa merasakan betapa perihnya. Menyakitkan seolah tiada henti menjamuku sebagai tamu kehormatan. Teramat indah sakit ini sehingga membuatku terkesima akan sensasinya. Terbayang-bayang didalam angan, masih mengulang memori yang sama. Banyak cerita dan pengalaman yang akan menjadi saksi bisu dalam tulisan ini tanpa tau berapa banyak hati yang menjerit ketika membayangkan rasanya.

Ketika di “lupakan” oleh seseorang yang teramat membekas dipikiranmu, Karena dia merupakan orang pertama yang memberimu arti Cinta a.k.a “your first love”. Memori yang sangat tajam, membuat otakmu selalu mengingatnya dan merasakan rindu menyesakkan ini. Tapi apalah daya ketika kamu hanya bisa melihatnya sudah dengan total menghapusmu dari ingatannya. Hanya ingatan sebelah pihak yang masih utuh merasakan pahitnya di “lupakan”. Ingin rasa melepas rindu ini memeluknya dan menyatakan cinta yang masih belum terkatakan sampai saat ini. Berekspetasi, berandai-andai, dan memisalnya adalah hal terburuk sampai saat ini Karena pada akhirnya kamu hanya bisa memperhatikannya tanpa dia tau yang sebenarnya terjadi. Telah menjatuhkan hatimu yang masih sangat ingin bertemu dan merindukannya. Dari dulu sampai sekarang rasa cintamu takkan berubah walaupun dia sudah tak mengingat rupa mu seperti apa.

Ketika kamu harus menerima kenyataan dia “menghilang”. Disaat kamu sudah berada sangat diatas atmosfer yang paling indah, disaat itu jugalah kamu harus melihat daratan yang sudah menunggumu dengan permukaan tak seindah diatas. Kamu jatuh seketika, dan melihat takkan ada lagi keindahan yang bisa kamu lihat diatasmu. Ketika semua nya menjadi monokrom, kamu tersadar bahwa dia tak lagi berada disekitarmu. Dia menghilang. Bodohnya kamu masih terus mencari, sampai pada akhirnya kamu harus menerima kenyataan bahwa dia telah menemukan apa yang telah dia cari. Menemukan hati yang paling indah menurutnya. Kenyataan yang begitu pahitnya dengan terpaksa, kau harus menelan semuanya. Sekarang, kamu hanya bisa duduk dan menyaksikan betapa bahagianya dia bersama dengan orang yang paling dia inginkan. Kamu dan dia hanya saling bermain kejar kejaran sampai tidak melihat satu sama lain, padahal kalian hanya perlu berbalik ke belakang dan bertemu. Sebegitu mudahnya hingga kau tak sanggup menolehkan kepala.

Ketika kamu harus tau kalau “Kamu tak dingiinkan”. Kenyataan seperti ini memang mudah ditemui oleh siapapun, kebanyakan orang dan TIDAK SEDIKIT. Cinta memang tak bisa dipaksakan, diprediksi, dan diartikan. Sebagian orang menganggap itu tak adil baginya Karena merasa tidak diinginkan oleh siapapun. Tak bisa merasakan apa arti saling membagi perasaan satu sama lain, memberikan perhatian yang memang tak untuk semua orang, dan hal-hal lazim ketika orang lain berpasangan. Merasakan kekosongan yang sudah sangat lama, membiarkan semuanya mengalir tanpa ada tujuan. Diposisi ini lah ketidaknyamanan menjadi sendiri itupun muncul. Ingin berbagi tapi berbagai penolakkan sudah terpampang nyata di depan muka, maksud hati ingin menjelaskan apa adanya tapi hanya mendapat ketertawaan yang menggelikan. Apakah cinta itu bisa adil berdasarkan ketulusan seseorang? Apakah cinta itu bisa adil berdasarkan porsinya untuk semua orang? Entahlah aku sendiri juga tak tahu.

Andai ada orang yang saat ini sedang membaca, pahamilah baik-baik karena semua orang mempunyai hati dan perasaan yang siapapun tidak memahaminya hanya dirinya sendiri. kamu tidak harus peka terhadap perasaan seseorang tapi kau harus befikir terlebih dahulu sebelum bertindak, agar tidak menyakiti perasaan siapapun. Aku ingin melepaskan sayap berduri yang telah menancap bertahun tahun lamanya. Sampai saat ini hanya menjadi luka yang tak pernah terobati di setiap harinya.

Menjauh dan Menghilang

           Merasa tau segala hal padahal menjadi sebuah luka diantaranya, ketika ingin mencari sesuatu yang lebih bermakna malah menjadi sebuah petaka. Berkeinginan baik malah menjadi berprasangka buruk, tadinya merasa pertemanan ini akan langgeng. Sekarang? Salah satu diantara kami mencoba “Menjauh”. Kata yang sangat tidak asing bagi seorang Aku, sering menjadi tempat persinggahan, pelarian, bahkan hanya menjadi tempat sebagai seorang teman musiman. Aku sudah cukup kuat untuk berusaha dan mencoba tidak memperlihatkan didepan mereka. Apakah hal itu menjadi hal sangat lumrah bagi mereka? Meninggalkan tanpa pamit terlebih dahulu. Pernahkah kalian menjadi seseorang seperti seorang Aku. Mungkin bagi sebagian orang pernah mengalami tapi hanya mencoba untuk menutupi keadaan sekitar. Berbicara tentang menjauh seorang Aku adalah ahlinya. Banyak alasan seseorang menjauh dari seseorang, tapi alangkah baiknya jika orang yang berusaha menjauh itu berpamitan sebelum pergi. Berusaha menjadi yang terbaik dan berusaha menjadi orang yang tidak butuh orang lain itu sangat sulit. Jika dihitung dalam skala 1-10, aku adalah orang yang memilih 1 teman dari 10 teman. Seorang Aku hanya butuh teman disaat aku sedang tak tahu arah, aku sudah letih untuk berpura-pura. Kenapa kau menghilang disaat aku butuh? Aku tak memikirkan niat yang lain selain mencoba untuk terikat dalam hubungan persahabat. Jikalau kau meninggalkan keadaan seperti ini, kau sama halnya  dengan orang yang pernah singgah dulu. Aku letih mengingat semua keadaan yang membuat kita seperti ini menjauh tanpa alasan, aku mempunyai alasan sendiri yang tak bisa kujelaskan padamu. Mungkin pada saat yang tepat.

Jika kau membaca ini,
Tolong sadarlah!

Ingin Diinginkan

Hari-hari ini, beberapa kelibat ku telah tampak tak kasat mata di sekitar mu. Di saat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kau pandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada padaku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu. Teriakan yang tak terdengar, atau kamu memang enggan menoleh lalu sadar. Keberadaan yang tak terlihat, atau kamu memang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat.

Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.

Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.

Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.

Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.

Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.

Memberi hati pada orang yang salah menjadi salah satu hobi untukku saat ini, hobi yang membuatku muak dengan kehidupan ini. Aku sangat berusaha menjadi normal.

Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.

Bisu Sendiri

Kornea hatimu terlalu buta, tak bisa melihat sisi hatiku yang terlupa sekaligus terluka. Aku tahu, dengan memperbanyak tanya dalam kepala tanpa mengeluarkan suara adalah wujud upaya sia-sia. Jika saja ada cara untuk menyadarkanmu tentang apa yang tersimpan tanpa menetaskan keberanian. Karena kini aku begitu takut, perasaanmu telah menciut. Aku butuh kekuatan telepati, agar peristiwa mendewasanya hati bisa juga kau alami. Agar bisa kau rasakan apa yang kurasakan dari sisi hati.

Tak mudah merasakan segalanya seorang diri, sementara sesungguhnya segala hal tentangmu ingin kubagi. Jangan salahkan hati yang tak mampu beritakan padamu tentang apa-apa. Sebab aku terlalu takut terluka jika yang nantinya kau beri hanya kecewa.

Apa rasanya jadi kamu, sesosok yang tak pernah luput dari daya ingatku? Apa rasanya jadi kamu, seseorang yang kusayang dengan terlalu? Apa rasanya jadi kamu, yang tak pernah tahu ada aku setia menunggu?

Ada seorang pengagum yang dengan sangat baik memendam rahasia tentang perasaannya. Ada yang dengan begitu rapi menyembunyikan diri sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Ada yang mendoakan kebahagiaanmu meski terjadi bukan karenanya. Ada yang berandai-andai jika saja kamu tahu siapa yang telah membuatnya jatuh cinta. Namun ia tahu, ia sedang berharap pada sebuah ketidakmungkinan.

Harus berguru pada siapakah hati agar ia berani mengungkapkan opini? Harus berguru pada siapakah kamu agar rajin mengisi hati dengan namaku? Harus berguru pada siapakah kita agar sama-sama bisa menjaga hati tanpa melukai? Seandainya ada yang bisa mengoreksi kerja hati kita. Pasti kita tak jalan bersilangan seperti dua yang dipenuhi keasingan.

Sebuah bisu kupelihara dalam bisingnya aksara di kepalaku. Ingin diutarakan, namun ragu menghalangi jalan. Ingin dipendam sendirian, namun entah hingga kapan bisa bertahan.

Harus bagaimana agar akal tak sibuk mencari jalan keluar dari isi kepala sendiri? Betapa berkata apa adanya itu sulit, sesulit menghadapi ketakutan kelak tak akan diterima apa adanya.

Bukankah ini perihal mulut yang enggan mengungkap dan kamu yang tidak juga peka? Adilkah ketika aku bertanya di mana semesta saat aku sedang benar-benar berharap pada sebuah kebetulan?

Ah sudahlah, kini biarkan aku memberi pengertian untuk diri sendiri, bahwa mungkin saja aku telah salah menentukan arah. Mungkin saja menunggu adalah jawaban terbaik, meski tidak sepenuhnya membuat keadaanku membaik. Bila nanti kau mengerti dengan apa yang ku maksud, aku ingin kau sepenuhnya tau bahwa aku telah sepenuhnya menjatuhkan hati padamu meskipun ini adalah sebuah ketidakmungkinan yang abadi.

Usai Di Sini

Awalnya aku tak menyadari, sebenarnya kau pun menyukai ku. Berawal dari percakapan yang kuanggap sekedar teman curhat dan merambat menjadi sebuah kalimat cinta yang awalnya ku kira hanya biasa. Teman temanku menyadari perilaku aneh mu itu dan mereka dengan senangnya memberi sebuah harapan yang semestinya aku percaya dari awal. Semua kesalahan memang terletak di awal, aku membenci diriku sendiri. Mulutku penuh bisu ketika terucap kata sayang. Apalah daya jika sekarang menoleh saja kau tak sudi. Aku rindu semua celotehmu yang sudah dengan baik menjatuhkan hatiku.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku. Tahukah kau rasanya menjadi seorang perempuan yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu? Tahukah kau rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Tahukah kau betapa menderitanya jadi seorang gadis yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Tahukah kau begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kau melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita? Tahukah kau perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan? Tahukah kau lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kau akan kembali?

“Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi. Tiga minggu lagi. Satu bulan.” Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kau pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kau betapa tersiksanya aku ketika kau tidak memberi kabarmu, ketika kau tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kau tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kau yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Apa kau tau betapa menyakitkan ketika kau menganggapku menjadi seorang yang tak pernah ada dihidupmu? Mungkin kau hanya menyalahakanku sebagai orang jahat disini. Apakah kau pernah berfikir jika banyak pencintamu diluar sana yang lebih baik dariku? Tapi aku merasa “lebih baik” ketika kudengar, kau menemukan salah satu pencintamu yang jauh lebih baik dariku. Meskipun setelahnya aku dianggap asing. Aku baru sadar, kau dulu sempat berjuang menjatuhkan hati yang penuh keangkuhan ini. Aku tak bermaksud untuk membuatmu bingung, tapi aku hanya tak tau harus bagaimana menanggapi sikapmu padaku.

 

Untukmu Rasa Terindah
Yang pernah ada