Cukup Disini

24 Maret 2018

Aku tak tahu harus berhenti untuk menulis mu darimana, karena selama ini tulisanku hanya di dedikasikan oleh dan untuk kamu.
Aku hanya menceritakan dari sudut pandangku tanpa persetujuan mu sama sekali, aneh? Semoga saja pandanganku tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi.
Boleh aku berhenti hanya untuk sekedar berhenti menyakiti diri sendiri?
Jujur, aku tak tahan dengan semua kecanggungan ini, aku ingin berhenti.

“Diam boleh, mundur jangan” katamu. Aku takkan heran jika yang kamu ceritakan bukan aku. Kamu tahu, dibalik kata-katamu yang seperti itu ada segelintir orang yang menderita karena terus menerus membiarkan luka yang terbuka tapi tak berdarah. Sekedar informasi, rasa yang terus menerus dipendam akan membuat luka yang lebih dalam pula. Karena tak semua orang, bisa memperlihatkan rasa kejatuhcintaan mereka secara sempurna. Mundur adalah salah satu cara mereka bertahan dari luka yang terus menerus kamu lakukan padanya.

Boleh aku berhenti sementara?
Aku hanya akan meminta kita berfoto berdua
Yang tak disangka mungkin akan mengingatku kembali padamu.
Mungkin setelah gelar dr. tertera dinamaku.

Iklan

Aku tak berniat

12 Maret 2018

Sejak senja tak lagi sama, baru saat ini aku mulai berani menulis kembali.

Mungkin, dengan tak bertegur sapa denganmu aku merasa lebih lega. Dengan begitu, aku seperti tak berada dalam lingkaranmu lagi walau nyatanya, kita hanya dipisahkan 1 meja sebelah.

Sebenarnya, aku tak bermaksud tak menegurmu. aku hanya belum siap, jika rasaku tak bertempat. Rasa ku kembali tak dianggap, rasanya sudah lama. Memang selama ini rasaku tak pernah berbalas karena jika setiap makhluk hidup hanya melihat dari fisik, benar aku kalah. Aku terlalu takut, mengatakan jika aku punya rasa. Aku takut akan penolakan yang tidak ada habisnya. Aku lelah.

Tapi nampaknya, kau belum tahu alasan sebenarnya yang butuh keberanian untuk mengatakan. Kau saat ini menilai ku dengan pikiran yang sama sekali tak beralasan. Aku tau hanya dari tatapan matamu,yang sama sekali tak sudi mengarahkan padaku. Jika kau tahu alasannya sekarang, aku mungkin belum siap menerima jawaban darimu. karena dari awal aku juga sudah tahu, jawabanmu pasti tidak. Benarkan?

Mungkin kau kira, tatapanku penuh dengan kebencian dan tak suka terhadap sikapmu. Percayalah, aku sama sekali tak berniat membencimu malah aku punya rasa sebaliknya. Tak sekecil pun niatku untuk meragu akan hal itu.

Jika kau membaca blog ini pada suatu hari nanti,
Percayalah tatapanku lebih dari sekedar teman yang kau kira
Maafkan aku jika pernah berbuat salah padamu
Aku hanya sedang sedikit kecewa

Hi, Iluvya

if you asked me how it hurts,
i’d answer simply
that it doesn’t
that nothing is wrong and I am
perfectly fine
but in actuality
I am a walking chasm
a deep gaping hole
that nobody wants to fall into
and those who love me
must feel so much shame
that they have to
take care of this mess
and if you asked me how it hurts
if you really wanted to know
i’d tell you
it hurts like smiling all day, laughing,
and coming home and attempting
to cry myself to sleep
it hurts like waking up in the middle of the night
willing God
or whoever
to please, please not wake me up in the morning
it hurts in my chest, I guess that’s why they call it
heartbreak
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

How hurts it was

26 Februari 2018

Kau tiba-tiba berdiri tepat di parkiran beriringan dengan DIA. Jujur, aku tak kuasa menulis ini dan tak sudi mengingat kembali. Tapi ketika kucoba pikir kembali, suatu saat kau harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dulu, ketika aku sedang jatuh sejatuh-jatuhnya terhadapmu.

2 jam yang lalu, aku sudah sempat tersenyum dengan sangat. Saat tahu kau juga mengambil jadwal yang sama, aku senang bahagia mendengarnya. Tapi seperti biasa, aku memasang muka datar karena aku tahu aku tak pantas memasang muka malu-malu.

Nafas ku sesak, daritadi serasa memar tapi tidak terjadi apa-apa.

-Keesokkan harinya-
27 Februari 2018

Sudah hari kedua sejak kejadian kemarin, kemarin? Kau tahu aku benar benar merasa terpukul, walau kau pun tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Ada satu orang yang selalu bilang aku tak wajar saat bercerita, dan selalu bilang bahwa itu biasa saja. Kau tahu, aku tak sepertimu sayang. Yang tak mudah mempercayakan suatu cinta .

Entah mengapa dari hari lalu pikiran ku kacau. Tak menentu, aku berusaha untuk bercerita pada Sang Maha Kuasa tapi sepertinya belum cukup. Rasa ini masih menyakitkan sesak untuk menjadi benar, aku tahu ini sudah kelewatan tapi seperti inilah yang terjadi sebenarnya.

Asalkan kau tahu aku terlalu untuk mencintai seseorang. Aku takut penolakan, aku takut dibenci, aku takut untuk dipandang jijik. Kau berhasil membuatku menangis setelah sekian lama aku tak menangis akan hal cinta. Kau berhasil mengoyakkan hati ku secara cepat dan bersih. Hanya aku yang tahu aku sakit sesak, dada ku terasa mengenyutkan otot-otot didalamnya. Semalaman tidur ku tak lelap, terngiang dan terbayang pada saat-saat itu terjadi.

AKU MENCINTAIMU. AKU MENYUKAIMU. AKU TAK SUKA MELIHATMU DENGANNYA. AKU KESAL. AKU MARAH. AKU SESAK. AKU SENYUM PUN TAKKAN BISA. Mungkin aku tak secantik dan tak body goals dia, Aku tak sefeminim dia, tak sepemalu dia, tak semanja dia, tak seputih dia. Oh Tuhan, bagaimana lagi aku harus mendeskripsikan perasaanku lewat kata. Aku tahu diri, bagaimana fisik ku tak bisa dipandang pada kesempurnaan. Maaf telah seegois ini.

Lewat kata saja rasanya sudah sesakit ini, apalagi harus bertatap muka dan tahu kebenarannya.
Pada hari kemarin, saat kau sedang senang-senangnya. Masih ada aku, yang menahan rasa yang sama sekali tak kau inginkan.

 

Sudah Kuduga

23 Februari 2017

Kau masih ingat? Bagaimana kau membuatku baper setengah mati?
Kau bermain-main dengan lenganku yang sangat menggemaskan ‘katamu’. HAHA Saat itu, jantungku serasa mau lepas saat kau tiba-tiba melakukan hal yang tak seperti biasanya. Jantungku benar berdetak dengan kencang, kuharap detakannya tak terdengar olehmu. Kukira kau ada apa? Pikirku positif, kau sudah sadar bahwa aku sedang menaruh rasa. Nyatanya, pikiran ku salah total. Kau sedang berbunga kala itu karena orang lain, kau tahu betapa hancurnya perasaanku saat mendengar kata-kata ‘Kau pikir, dia begitu karena tidak apa apa? Kau salah’ Kata seorang sahabat yang benar-benar ku percaya.

Kau seakan akan menggiringku ke ruang hampa tanpa gravitasi, lalu tibatiba disaat aku sedang bermain pada ruang hampa itu dengan mudahnya kau atur gravitasi paling tinggi hingga aku terjatuh dan terhantam dataran berbatu tajam lalu kau lihat begitu saja dengan senyum tipismu, sedangkan aku sedang berdarah dan tak berdaya.

Dan dengan begitu, kau senang? Kau bahagia dengan mukaku yang datar saja, seakan akan aku temanmu yang bisa kau berbagi kebahagiaan. Kau salah, aku sedang cinta-cintanya pada mu kala itu meski aku tau kau sedang menaruh semua hatimu pada orang lain. Tapi bodohnya aku, masih saja mencintaimu dalam diam.

Kau bilang aku berubah tak pernah lagi bercerita? Kau tahu, sebenarnya apa lagi yang aku ceritakan padamu? Apa perlu aku menceritakan tentang perasaanku, aku selalu terbungkam saat kau ajak cerita karna aku takut akan menjadi salah tingkah. Aku takut dengan segala kcemasanku saat mengobrol dengan orang yang begitu aku cinta saat ini pada hari ini. Sadarlah sayang, kau begitu dicintai olehku. Cintalah, yang membuatku berubah seperti ini.

Tolong, jika kau tak berniat menaruh rasa. Jangan perlakukan aku seperti itu, itu terasa amat sangat sakit ketika tahu kau sedang menaruh rasa pada orang lain. Aku akan berusaha selalu menutup perasaanku terhadapmu karena aku tahu menyatakan pada orang sepetimu aku akan selalu melakukan penolakan.