Pinggiran Rahasia

Hei, kamu yang ku kagumi
Hei, kamu yang sedang ku ceritakan
Hei, kamu yang membuat hatiku berdegup kencang seenaknya
Hei, Kamu yang selalu membuatku tersenyum tiada arah
Hei, kamu yang berhasil membuatku salah tingkah

Betapa banyaknya yang ingin ku tuliskan
Betapa banyak yang ingin kukatakan
Semua berhubungan dengan mu
Betapa banyak yang ingin dekat denganmu
Betapa banyak yang menyisihkan ku

Jatuh cinta pada sosok pinggir jendela
Terlihat biasa saja jika sosok itu bukan kamu
Terlihat seperti kayu membentuk jendela
Semua terlihat sama saja
Tapi lihat jika kamu yang sedang disana
Aku selalu ingin memandang kearah jendela
Ya, jendela kayu itu

Ingin kukatakan bahwa aku senang melihat mu
Ingin kukatakan bahwa aku tak lelah memandangmu seperti ini
Diam tapi ingin lagi
Berulang kali tanpa henti
Mencuri pandangan ini

Aku ingin merasa dekat
Seperti dia
Aku ingin melangkahkan kaki disampingmu
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu beri kabar
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu ajak
Seperti dia
Aku ingin menjadi pembuat foto yang isinya hanya kita berdua
Seperti dia

Tapi aku menjadi seperti ini sekarang
Hanya bisa memandang
Walau jarak kita dekat
Berusaha memulai seperti biasa
Tapi jatuh hati ini tak akan biasa lagi

Aku hanya berharap
Kita tetap seperti ini
Tetap bisa tertawa Bersama
Tetap bisa berbicara
Tetap saling menyapa
Aku ingin tetap biasa
Tanpa kamu tau sebenarnya ini bukan yang biasanya

 

 © Ayu Mayangsari | Ketapang, 18 Agustus 2017

Iklan

Tertawa

Tertawa

Benar kata orang
Terlihat dari luar
Tampak baik baik saja

Benar kata orang
Terdapat sejuta duka
Dibalik suara tawa itu

Ada yang berkata
Semua orang bebas berekspresi
Tapi tidak untuk segelintir orang

Ada juga. .
Sifatnya bukan dia
Tidak semuanya asli
Terkadang hidup itu
Seperti menapak di tengah hutan
Terkadang semua itu
Hanya untuk menutupi masalahnya
Masalah yang tidak ada orang yang tau

Cukup dia.
Dibalik cerianya
Terdapat Kelamnya kehidupan

Dia ingin bercerita
Tapi kepada siapa
Dia sendiri tak tahu

Tundukkan kepala
Diam tanpa kata
Dibanjiri air mata

Hanya Sebuah tempat
Bisa mengubahnya
Kembali ceria
Sekolah.

Sekolah tempatnya
Seperti tak ada masalah
Tertawa sepuas hati
Senyuman membawa manisnya hidup

Dan semua itu berubah
Ketika dia pulang

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 3 Agustus 2017

LEGA

Mungkin terlalu banyak ungkapan
Perasaan yang meluap luap
Bagaikan angin tornado
Kini meninggalkan puing porak poranda

Perasaan ku sangatlah lega
Pada akhirnya tidak kamu lagi satu satunya cahaya
Tidaklah kamu yang selalu membayang

Semua penyesalan, tak tersampaikan, bahkan bimbang
Telah selesai
Aku tak akan peduli akankah seburuk apa responmu
Disini yang aku perdulikan adalah perasaanku
Aku hanya menuangkan apa yang telah menjadi beban dimasa lalu

Aku sudah sangat baik mengerti
Apa resiko jika hanya mencintai tanpa dicintai
Dengan nafas lega ku hirup dan hembuskan
Inilah aku dengan kalimatku

Karena tidak dicintai
Sudah menjadi biasa dikehidupanku
Bukan berpura tegar tapi kenyataanlah yang membawaku ke tahap ini

Setelah sekian lama kita tak pernah bertemu
Aku berterima kasih telah memberi kesempatan
Untuk mengisi namamu disebilah hatiku
Sampai hari ini

Terima Kasih dan Maaf
Kata yang sangat pantas untuk kau baca
Fokuslah pada kalimat yang kurangkai
Karena kau sangatlah tau
Hanyalah kalimatku yang membawa kau sampai pada bait ini

Aku berharap suatu saat
Aku menemukan orang yang bisa membawaku kembali
Untuk membuka hati yang sudah lama terkunci kuat

Aku memang tak mau menjamah cinta
Sampai pada saat ini aku hanya ingin menutup diri
Menutup diri seakan tak ada cinta di dunia ini
Biarkan semua tetap begini
Agar aku tetap bahagia

Hatiku baik baik saja
Sampai pada waktunya

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 21 Juni 2017

Saatnya Aku Pulang

Aku sudah sampai dikota ini
Sulit untuk menjelaskan
Ada ribuan kata dan kalimat
Tapi tak satupun yang menceritakanmu

Aku Ingat
Saat Pertama kalinya kita bertemu
Di sebuah taman kanak kanak
Awalnya aku tak yakin ini sebuah cinta
Karna tak seharusnya cinta ini ada
Kita adalah dua orang anak kecil
Sibuknya kita kala itu adalah bermain

Pada saat ini aku ingin meretas semua kerinduanku
Sudah lama ingatan ini terpendam
Bertahun tahun lamanya
Hingga ingatanmu tentangku telah tiada
Bila saja ada penawar untuk mengembalikan ingatanmu
Ingin kukatakan dengan jelas perasaanku saat ini

Dalam hal cinta
Sudah sewajarnya mempunyai pilihan
Melupakan dilupakan
Mencintai dicintai
Kau tentu mempunyai alasannya
Alasan untuk menghapus ingantanmu tentangku

Apa kau mendengar waktu itu
Detak jantungku terasa lepas
Saat kita duduk diatas ayunan yang sama
Aku terlihat bodoh
Ketika harus bertatapan dan berpegangan tangan
Mungkin pada kala itu kau masih kecil
Kau bahkan tidak pernah berfikir untuk mencintaiku kala itu
Bodohnya aku bila berharap pada kenangan masa kecil

Nama kecil yang kau panggilkan untukku
Aku masih mendengar suaramu saat memanggil namaku
Meskipun saat ini kau tak pernah memanggil lagi
Jangankan untuk memanggil
Kini aku sudah terlupakan
Ini tidak direncanakan
Kau sudah memilih jalanmu
Aku sudah memilih jalanku
Keputusanku adalah kembali dikota ini
Kota yang sudah menemaniku
Mengajariku untuk mengerti resiko mencintai

Maaf aku lancang menjatuhkan hatiku padamu
Kota ini kembali memelukku dengan sejuta harapan
Kita tak saling mengetahui cara Tuhan memilih jalan ini
Sudah lama keinginanku menyampaikan ini kepadamu
Mungkin kita tak akan pernah dipertemukan lagi
Jikalau memang bertemu kau mungkin hanya menganggapku sebagai orang asing
Pada akhirnya perasaanku tersampaikan lewat kata kata ini

Aku begitu mencintai kota ini
Dan tak halnya kau

-Ayu Mayangsari a.k.a Yayang-

 

 © Ayu Mayangsari | Ketapang, 20 Juni 2017

 

Pojok Rasa #2

Keheninganku hanya kata lain, untuk rasa sakit ini
Karna berteriak pun kau tak akan perduli
Seolah aku tak pernah ada di kisah asmara mu

 

Gelombang angin yang menyapu kalbu
Mengisyaratkan kita begitu kaku
Asing seperti berada di dunia berbeda
Sirna tak berbekas

 

Kertas yang tercoret tentu tidak bisa utuh kembali
Biarlah nanti tetap ku simpan kenangan ini
Andai waktu itu aku tau dan waktu bisa putar balik
Aku akan memilih kembali di kenangan ini

 

Tak ada yang ingin tau
Jika sebuah tanya memiliki beribu rahasia
Tak ada yang ingin tau
Jika satu sajak memiliki maksud dan arti beribu kata
Tak ada yang ingin tau
Jika hati ini ingin memilih siapa
Mungkin keingian hati lebih bertahan untuk memilih menyendiri

 

Jangan tunjukkan senyum itu lagi padaku
Senyum itu sungguh menyakitkan hingga
Kaki ku sudah tak kuat menopang harapan yang sudah lama ku biarkan tumbuh dengan suburnya

 

©Ayu Mayangsari | Ketapang, 16 Juni 2017

Pojok Rasa #1

Ku bermimpi dengan mata yang terbuka
Ku melayang diatas awan tanpa terbang
Dan kau datang hampir merubah semua pandanganku tentang cinta

 

Berbagai kata, cerita, dan tawa
Mengundang munculnya kisah
Mengenang harumnya perkenalan
Semerbak bunga klise yang kau tambahkan
Sajak kata mulai ada
Sejak kata perpisahan ada

 

Tak perlu berpura-pura
Jika harus terluka
Pandangan berbeda
Disetiap harinya
Membuat hati merasa
Betapa indah senyuman
Sebelum semuanya dipenuhi luka

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 28 Mei 2017

KAMU

Hai sang cakrawala
Masihkah engkau disana?
Melihat sang senja
Sedang melihat kehangatan sang surya

Mungkin aku tak segagah cakrawala
Tak seelok senja
Dan tak sehangat  sang surya
Tapi bolehkah aku menatap sang cakrawala?
Matamu itu setajam mata elang yang terbang di antara bunga
Membuatku sejenak merasa ada

Aku ada..
Memang bukan berada diantara bunga
Melainkan aku berada diantara pinggiran rasa

Butuh kekuatan untuk pulih
Butuh waktu pula untuk memilih
Tapi itu semua hanyalah mimpi berdalih

Bagaimana aku bisa memilihmu
Jika untuk masa lalu ku saja belum sempat terjamah oleh waktu
Karena aku tau
Lelahnya bertumpu pada harapan palsu

Pada akhirnya kamu berakhir dengan kata
Perkenalan kita hanya mengkisahkan luka
Luka yang ditutupi oleh rasa cinta


© Ayu Mayangsari | Ketapang, 14 Mei 2017