Unknown

Angin berlalu ditempat ini
Masih dengan hawa yang sama
Saat kita dulu disana
Duduk diantara pojokan
Berimpi kita bisa kembali ditempat ini
Dalam keadaan yang sama

Tapi tidak
Tidak untuk kali ini
Kita memilih keluar untuk berhenti
Berhenti untuk saling menyakiti
Pada waktunya kita sadar
Bahwa kita belum tepat
Memilih jalan kembali

Jikalau kita tak sengaja
Bertemu ditempat ini
Doakan saja
Aku telah bahagia
Dengan seseorang yang lebih baik darimu
Pertanda rasaku telah tiada

Janganlah kembali
Untuk menghancurkan lagi

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 11 September 2017

Iklan

Tanpa Judul

Datang harapan disaat aku
Enggan untuk menatapmu
Bahkan
Waktu bibirmu mengucapkan
Kalimat yang kusebut harapan

Percayalah
Meski tak terlihat
Debar itu nyata
Mengertilah
Meski terlampau tak acuh
Tapi peduliku lebih dari sekedar ada
Tak terlihat bukan berarti tak ada
Sebab aku hanya memilih untuk
Tak menunjukkan saja
Terlalu naif
Itulah cinta
Kadang membuat akal jernih lupa daratan

Tak lupa
Aku sadar sepenuhnya
Kau akan pergi menghilang dari hidupku
Cepat atau lambat
Tinggal menunggu waktu menghampiri
Hilang menjadi kenangan

Menumbuhkan rasa dan menambahkan harap
Terlalu banyak hingga
Aku sendiri kesusahan untuk menanganinya
Dalam kediaman membisu ini

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 25 Agustus 2017

Satu Hari Di Bulan MEI

Pagi itu kutemukan
Pagi itu kurasakan
Saat itu juga tersadarkan
Kapan termulainya
Pagi itu lebih cerah
Lebih cerah dari biasanya
Lebih memandangnya
Lebih memperhatikannya

Siang itu merasakan
Siang itu terasa nyaman
Senyaman saat aku didekatnya
Senyaman saat aku berbincang dengannya

Secangkir kopi hitam
Tak sepahit kopi biasanya
Terasa manis di awal dan akhir
Kenyaman kala itu tak terduga
Bunga pun sepakat enggan layu kala itu
Seakan terlarut dalam suasana
Hingga burung burung menciumi senja
Senja memberi izin yang kala itu
Meluangkan waktu yang lebih lama

Muncullah sang rembulan
Membisik pada bintang
Menitipkan salam pada seseorang
Mengatakan tetaplah disini sampai waktu hari ini berakhir
Hari ini terlalu indah untuk dilewati begitu saja
Biarkan sang rembulan menikmati waktu membisik bersama bintang
Seperti aku dan kamu menghabiskan waktu
Biarkan hati ini tetap menikmati
Betapa indahnya waktu hari ini
Bila dihabiskan bersama denganmu
Walaupun hanya sekali saja

 

Untuk seseorang
Bersembunyi dibalik bintang
Menantang malam

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 20 Agustus 2017

Pinggiran Rahasia

Hei, kamu yang ku kagumi
Hei, kamu yang sedang ku ceritakan
Hei, kamu yang membuat hatiku berdegup kencang seenaknya
Hei, Kamu yang selalu membuatku tersenyum tiada arah
Hei, kamu yang berhasil membuatku salah tingkah

Betapa banyaknya yang ingin ku tuliskan
Betapa banyak yang ingin kukatakan
Semua berhubungan dengan mu
Betapa banyak yang ingin dekat denganmu
Betapa banyak yang menyisihkan ku

Jatuh cinta pada sosok pinggir jendela
Terlihat biasa saja jika sosok itu bukan kamu
Terlihat seperti kayu membentuk jendela
Semua terlihat sama saja
Tapi lihat jika kamu yang sedang disana
Aku selalu ingin memandang kearah jendela
Ya, jendela kayu itu

Ingin kukatakan bahwa aku senang melihat mu
Ingin kukatakan bahwa aku tak lelah memandangmu seperti ini
Diam tapi ingin lagi
Berulang kali tanpa henti
Mencuri pandangan ini

Aku ingin merasa dekat
Seperti dia
Aku ingin melangkahkan kaki disampingmu
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu beri kabar
Seperti dia
Aku ingin menjadi yang selalu kamu ajak
Seperti dia
Aku ingin menjadi pembuat foto yang isinya hanya kita berdua
Seperti dia

Tapi aku menjadi seperti ini sekarang
Hanya bisa memandang
Walau jarak kita dekat
Berusaha memulai seperti biasa
Tapi jatuh hati ini tak akan biasa lagi

Aku hanya berharap
Kita tetap seperti ini
Tetap bisa tertawa Bersama
Tetap bisa berbicara
Tetap saling menyapa
Aku ingin tetap biasa
Tanpa kamu tau sebenarnya ini bukan yang biasanya

 

 © Ayu Mayangsari | Ketapang, 18 Agustus 2017

LEGA

Mungkin terlalu banyak ungkapan
Perasaan yang meluap luap
Bagaikan angin tornado
Kini meninggalkan puing porak poranda

Perasaan ku sangatlah lega
Pada akhirnya tidak kamu lagi satu satunya cahaya
Tidaklah kamu yang selalu membayang

Semua penyesalan, tak tersampaikan, bahkan bimbang
Telah selesai
Aku tak akan peduli akankah seburuk apa responmu
Disini yang aku perdulikan adalah perasaanku
Aku hanya menuangkan apa yang telah menjadi beban dimasa lalu

Aku sudah sangat baik mengerti
Apa resiko jika hanya mencintai tanpa dicintai
Dengan nafas lega ku hirup dan hembuskan
Inilah aku dengan kalimatku

Karena tidak dicintai
Sudah menjadi biasa dikehidupanku
Bukan berpura tegar tapi kenyataanlah yang membawaku ke tahap ini

Setelah sekian lama kita tak pernah bertemu
Aku berterima kasih telah memberi kesempatan
Untuk mengisi namamu disebilah hatiku
Sampai hari ini

Terima Kasih dan Maaf
Kata yang sangat pantas untuk kau baca
Fokuslah pada kalimat yang kurangkai
Karena kau sangatlah tau
Hanyalah kalimatku yang membawa kau sampai pada bait ini

Aku berharap suatu saat
Aku menemukan orang yang bisa membawaku kembali
Untuk membuka hati yang sudah lama terkunci kuat

Aku memang tak mau menjamah cinta
Sampai pada saat ini aku hanya ingin menutup diri
Menutup diri seakan tak ada cinta di dunia ini
Biarkan semua tetap begini
Agar aku tetap bahagia

Hatiku baik baik saja
Sampai pada waktunya

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 21 Juni 2017

Saatnya Aku Pulang

Aku sudah sampai dikota ini
Sulit untuk menjelaskan
Ada ribuan kata dan kalimat
Tapi tak satupun yang menceritakanmu

Aku Ingat
Saat Pertama kalinya kita bertemu
Di sebuah taman kanak kanak
Awalnya aku tak yakin ini sebuah cinta
Karna tak seharusnya cinta ini ada
Kita adalah dua orang anak kecil
Sibuknya kita kala itu adalah bermain

Pada saat ini aku ingin meretas semua kerinduanku
Sudah lama ingatan ini terpendam
Bertahun tahun lamanya
Hingga ingatanmu tentangku telah tiada
Bila saja ada penawar untuk mengembalikan ingatanmu
Ingin kukatakan dengan jelas perasaanku saat ini

Dalam hal cinta
Sudah sewajarnya mempunyai pilihan
Melupakan dilupakan
Mencintai dicintai
Kau tentu mempunyai alasannya
Alasan untuk menghapus ingantanmu tentangku

Apa kau mendengar waktu itu
Detak jantungku terasa lepas
Saat kita duduk diatas ayunan yang sama
Aku terlihat bodoh
Ketika harus bertatapan dan berpegangan tangan
Mungkin pada kala itu kau masih kecil
Kau bahkan tidak pernah berfikir untuk mencintaiku kala itu
Bodohnya aku bila berharap pada kenangan masa kecil

Nama kecil yang kau panggilkan untukku
Aku masih mendengar suaramu saat memanggil namaku
Meskipun saat ini kau tak pernah memanggil lagi
Jangankan untuk memanggil
Kini aku sudah terlupakan
Ini tidak direncanakan
Kau sudah memilih jalanmu
Aku sudah memilih jalanku
Keputusanku adalah kembali dikota ini
Kota yang sudah menemaniku
Mengajariku untuk mengerti resiko mencintai

Maaf aku lancang menjatuhkan hatiku padamu
Kota ini kembali memelukku dengan sejuta harapan
Kita tak saling mengetahui cara Tuhan memilih jalan ini
Sudah lama keinginanku menyampaikan ini kepadamu
Mungkin kita tak akan pernah dipertemukan lagi
Jikalau memang bertemu kau mungkin hanya menganggapku sebagai orang asing
Pada akhirnya perasaanku tersampaikan lewat kata kata ini

Aku begitu mencintai kota ini
Dan tak halnya kau

-Ayu Mayangsari a.k.a Yayang-

 

 © Ayu Mayangsari | Ketapang, 20 Juni 2017

 

KAMU

Hai sang cakrawala
Masihkah engkau disana?
Melihat sang senja
Sedang melihat kehangatan sang surya

Mungkin aku tak segagah cakrawala
Tak seelok senja
Dan tak sehangat  sang surya
Tapi bolehkah aku menatap sang cakrawala?
Matamu itu setajam mata elang yang terbang di antara bunga
Membuatku sejenak merasa ada

Aku ada..
Memang bukan berada diantara bunga
Melainkan aku berada diantara pinggiran rasa

Butuh kekuatan untuk pulih
Butuh waktu pula untuk memilih
Tapi itu semua hanyalah mimpi berdalih

Bagaimana aku bisa memilihmu
Jika untuk masa lalu ku saja belum sempat terjamah oleh waktu
Karena aku tau
Lelahnya bertumpu pada harapan palsu

Pada akhirnya kamu berakhir dengan kata
Perkenalan kita hanya mengkisahkan luka
Luka yang ditutupi oleh rasa cinta


© Ayu Mayangsari | Ketapang, 14 Mei 2017