Posted in Penulis

Kolaborasi Rasa

Saat jemari ini tak henti hentinya mengisahkan diri, pada sebuah drama hidup yang diperankan oleh aku dan kamu. Memberi isyarat rasa membohongi satu sama lain. Aku percaya, cinta pasti punya cara sendiri. Mungkin spasi yang terselip kini adalah sebagian porsi skenario Tuhan yang tak terprediksi. Bukannya telingaku tak pernah dapat kabar pasti? Jika angin berhembus, dengar bisik rinduku yang terselip walaupun sesaat. Bukankah hangatnya kamu rasakan terus merapat? Jangan lupa pada sinar mentari di pagi hari. Jiwa ini seolah tak pernah tau kejadian semalam. kau bersikap acuh ataukah kau cuman gugup karna kejadian semalam. Bagiku, sangat tak mungkin karna aku adalah tamu yang diundang pada sedikit kesempatan saja. Sebenarnya aku sudah lelah menjatuhkan cinta pada hati yang salah. Aku juga ingin rasaku berbalas, bukan terus menerus berbatas. Harus meminta seperti apa lagi, agar hatiku yang masih kutitipkan padamu, bersedia pulang kembali? Karena setiap kubiarkan perasaan-perasaan ini tinggal, aku takut lukaku semakin kekal.

Saat hati ini menjadi milikmu, tapi kenapa hatimu tak bisa menjadi milikku? Aku mungkin hanya terlalu siap untuk menerima bahwa kita bukanlah untuk menjadi nyata. Meski memang selalu ada keinginan semoga kita diciptakan untuk saling menemukan, namun aku sadar tak perlu berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Untuk rindu-rindu yang akhirnya berlarian menujumu saat tatap mata kita bertemu, aku menyelipkan sekecil doa di situ. Mencinta itu sederhana ketika kekuatiran, lelah menjadi prioritas sepihak. Jangan pernah berpikir aku lelah dengan drama hidup ini, karena sungguh aku menikmati peran ini. Mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan. Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama bahagia masih berdatangan seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Biarlah cinta ini sebagai aliran merdu yang membuatku penuh tanya akan jawabmu. Aku akan selalu siap menerima apapun jawabanmu, biarlah matamu terbuka dengan sendirinya dan melihat seberapa kerasnya aku mempertahankanmu dalam keheningan ini.

Sudah sangat cukup aku melihatmu bergandengan dengan seorang wanita yang kau pilih. Membiarkan asaku cukup terkikis, aku begitu senang hanya dengan melihat punggungmu dari belakang. Aku percaya penantian yang panjang akan indah pada waktunya seperti Naruto dan Hinata yang mempunyai akhir bahagia. Perlahan tapi pasti

Iklan

Penulis:

Kamu tau alasan ku bersajak? Karena bersajak adalah satu satunya media ketika bibirku tak sanggup merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s