PRIA BERSYAL BIRU

Cerita ini terinspirasi dari teman baik yang request tengah malam. orang orang yang didalam cerita ini sebagian Nyata salah satunya untuk abang yang sering duduk didekat mading sekolah pakai kacamata, dan satu satunya mirip Arima Kousei. “Aychan”

Tepat sudah satu tahun enam bulan persahabatanku terjalin dengannya. Ya, sebagai seorang sahabat kedekatan kami berawal dari sebuah acara festival diwaktu musim gugur waktu itu aku tersesat karna aku baru pindah dari luar kota. Teman teman baruku mengajakku ke festival musim gugur saat itu yang sedang meriah meriahnya. Aku berputar mengelilingi jalan yang sama mungkin sekita 9x aku melewati jalan yang sama dan saat itulah aku sedang memerhatikan papan peta yang ada dipinggiran jalan itu aku sedang memukul kedua kepalaku mengatakan “Kenapa aku bisa sangat bodoh seperti ini?” . “ hai nona, jika kau terus seperti itu kau akan masuk angin. Diaat musim seperti ini kau malah asyik sendirian memandangi peta tua lusuh itu. Apa pentingnya sih?” sahut pria muda bersyal biru tua “Siapa kau? Berkomentar tanpa tau penyebabnya. Aku disini karna aku tersesat” “ jadi kau tersesat? Heh.. nona muda secantik kau tersesat dipinggiran jalan seperti ini? Apa kau tidak takut jika nanti bertemu dengan sekelompok berandalan yang ada diujung jalan ini?” ” aku baru pindah kemarin dari luar kota. Dan sekarang aku sama sekali tidak mengetahui jalan dikota ini. Kota ini baru bagiku. Aku kehilangan jejak teman temanku pula. Lebih sialnya lagi ponselku ketinggalan dirumah” “ nasib sial yang berlipat, mau kuantarkan ke festival itu? Aku juga ingin pergi kesana” “ Tidak” “ keras kepala sekali kau. Sudah untung mau ditunjukkan jalan oleh ku” Pria itu langsung pergi tanpa memujuk seorang nona muda yang berdiri di depan peta kota yang lusuh itu. “Heiiii.. tunggu aku. aku ikut denganmu” Sepanjang perjalanan kami diam tanpa kata. Suara angin lebih kencang dari suara diam kami, semua tak berkata. Berjam jam memandangi jalan hitam nan kelam Tak lama kemudian kami sampai di festival itu, aku berterima kasih padanya lalu pergi mencari teman temanku dan untungnya temanku masih berada dikedai takoyaki. Aku segera berlari sesegera mungkin agar aku tidak kehilangan jejak mereka lagi. Keesokan harinya, aku menjadi siswa pindah dari luar kota dan menjadi adik kelas yang identik dengan patuh dengan kakak kelas. Aku hanya mengikuti satu ekskul yang membuatku menarik. Eksul Mading. Seperti informasi yang ada dibuku panduan, ekskul tersebut mempunyai aktivitas yang sering kukerjakan dirumah sendirian tanpa dipulikasikan ke siapapun alias pembuat dan penikmat pembaca sendiri. Aku langsung diarah kepada ketua ekskul tersebut dan aku melihat dari ujung sana seorang laki laki berbaju rapih tinggi, aku langsung menghampirinya dan memberikan lembaran pengajuan menjadi anggota “ murid pindahan.. hmm.. boleh juga sih. Nanti kau akan dites oleh seksi kedisiplinan diekskul kami. Datang jam 3 sore dengan baju bebas” Aku datang sesuai yang dibilang senpai itu. Aku berulang kali befikir, siapa seksi kedisiplinan ekskul itu. Pasti dia cewek yang baik hati, putih, dan tinggi seperti ketua itu. Atau sebaliknya itu cowok yang resek, aku akan berfikir positif agar aku bisa menjadi anggota mading disekolah itu. Sampai didepan ruang eksekusi seksi kedisiplinan. Seperti mau jalan diatas terik matahari dan mengalami dehidrasi tingkat tinggi. Aku membuka pintu itu dan terlihat ruangyang yang rapi, bersih, model klasik, serba kayu kokoh berdiri diruangan itu. Ada sebuah kursi yang berbalik diujung sana menghadap jendela, apakah dia pengeksekusi itu?. “ Hmm.. *berdeham* seksi kedisiplinan ya senpai?” “ Ya.. aku akan menanyaimu dengan beberapa pertanyaan. Silahkan duduk” Tak disangka dibalik kursi itu ada sesosok pria tampan Tinggi, berhidung mancung, memakai kacamata, dan putih itu menghadapku. Seketika waktu serasa berhenti berdetak hanya jantung yang bergerak secara tak teratur dan menggunakan frekuensi sangat tinggi. Aku tak fokus dalam sekejap,saat dia menanyaiku dengan beberapa pertanyaan jurnalis aku tak berani menatap kedua bola mata yang saat hitam mengkilap menyerupai bola kristal berwarna hitam. Sampai saat aku diterima menjadi jurnalis. Semakin lama, aku merasa jarak diantara semakin dekat entah karna kami sering berdiskusi atau sebab sebab lain. Atau selama ini aku pernah melihatnya entah dimana. Aku mempunyai perasaan aku pernah melihatnya disuatu waktu, tapi pertanyaan itu seolah olah menghilang dalm sekejap ketika aku bercanda dengannya melihat senyumnya yang terlihat sangat tak membosankan ketika dilihat dan bentuk muka lucu membuatku tak pernah bosan Hujan, ini peristiwa sangat berarti bagiku. Seorang pria muda bersyal biru itu ternyata adalah dia, dia sang seksi kedisiplinan memakai kacamata yang sangat pas melekat diantara tulang hidungnya. Aku sempat bertanya “mengapa saat kita pertama kali bertemu aku tidak menggunakan kacamatamu?”. Pria itu dengan mudah menjawab “Saat itu aku memakai lensa yang membuat mataku seperti orang kebanyakan. Tapi, aku merasa aku tidak terbiasa dengan hal itu”. Dengan percaya diri aku melantang “Tidak heran, karna se ikemen apapun orang itu kalau memakai style nya sendiri itu sudah membuatnya jadi diri sendiri apa adanya. Tidak mengikuti tren tren masa kini. Aku suka itu” “Kau suka?” “Ya, kacamatamu” “Tapi sayangnya, kacamataku patah dan satu lensa tersisa” “Duuh.. kok bisa?” “Bisa lah, karna satu lagi mau diganti baru sama lensa yang satu ini” membelai pipiku dengan satu senyuman yang teramat manis


© Ayu Mayangsari | Ketapang, 13 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s