TELL ME ABOUT LOVE

Malam itu, aku dan sasha sedang berbaring diatas rumput hijau, sedang memandang hamparan langit yang penuh dengan bintang. Dia yang selalu mengerti aku, dia yang selalu memperhatikanku, dialah sahabat kecilku.

Rumah kami bersebelahan, sekolah kami selalu sama tapi kami jarang satu kelas, orang tua kami seperti keluarga dekat, jelas saja kalau saat ini kami bisa berbaring. Kami selalu menceritakan pengalaman cinta kami yang aneh, lucu, dan kadang kadang sampai salah satu dari kami mengeluarkan air mata kesedihan atau kesenangan. Aku senang bisa mengenal sasha.

Sasha mempunyai sifat yang menurutku tak semua orang bisa lihat. Dia seru, lucu, dan pastinya teman yang selalu ada buatku. Namaku galih, sering menghabiskan waktuku ditrampolin didepan rumah kami dengan membawa gitar klasik yang menemani bersama sasha. Kadang kami berdua saling menyebutkan kata kata yang cocok untuk lagu baru yang sering kami buat untuk dinyanyikan bersama sama. Pada saat aku bernyanyi bersamanya suasana hatiku mengikuti alunan melodi gitar yang kumainkan perasaanku seolah digetarkan oleh suara dan senyum itu.

Suatu malam ketika dia sedang meloncat diatas trampolin dia berteriak padaku.
“ Dra… Gue mau cerita nih, gua senengggg banget”
“ Lo kalo mau cerita ya turun aja, gak baik tau cerita sambil tereak tereak”
“ Oke.. Hemmph..” duduk menepi ditrompolin tepat disebelah
“ Eh.. lo tau gak dra anak ketua Photography itu?”
“ Ohh.. si Radit ya? Emangnya kenapa? Lo diapain sama dia?”
“ Itu yang namanya radit? Nggak cuman nanya doang. Anaknya asik loh”
“ Eh.. gua kasi tau ya? Tipe tipe kayak si radit itu playboy cap kucing b29. Tau nggak?”
“ Yaelah elo.. gua tau lo itu my childhood bestfriend the best ever tapi lo jugak nggak segitunya”

Aku tak tau apa yang membuatnya begitu senang malam itu. Percakapan kami sampai disitu saja. Aku dan shasa kembali kerumah, aku memetik setiap nada digitarku dengan harapan menemukan nada yang pas untuk lagu yang ku buat saat ini. Entah kapan, orang orang bisa mendengar laguku terutama dia. Pagi sudah datang menyambut hariku dan aku belum sempat tidur untuk sekian kalinya, mataku memang terpejam tapi pikiranku masih fokus terhadap ucapan sasha malam itu. Apakah aku takut kehilangan dia? Aku bergumam pada diriku yang terlau pengecut untuk mengungkapkannya. Sasha masih bersikap biasa dan belakangan ini aku sering diam diam memperhatikan sedang dekat dengan si radit. Ini gak bisa ku biarkan, malam ini aku harus menyampaikan semuanya.

Senja yang mulai mengucapkan perpisahan tiba. Tepat jam 08.00 malam tanggal 08-08-08. Aku dan dia sedang merebahkan tangan diatas hamparan rumput hijau didepan rumah rumah.
“ Sha.. lo tau kan gua kenal lo dari kecil”
“ Ya tau lah.. Terus?”
“ Maaf sha, gua suka sama lo” sambil memejamkan mata
“Lo tau.. gua udah nunggu ucapan itu sejak kita baru masuk SMA. Gua udah berharap respon ini dan pastinya gue bakalan jawab YA” sambil berbicara dengan mata berkaca kaca
“Beneran??” nggak tau kenapa secara refleks aku mencium keningnya
kami berdua saling memandang dan tersenyum tipis. Malam itu malam paling terindah yang pernah aku lewati. Malam pertama kali, first love sekaligus pacar pertama akuaku senang bukan kepalang. Sebuah lagu pun tercipta untuknya, aku berniat lagu ini hanya ketika aku mau pergi dari kehidupan nya atau sebaliknya atau dengan kata lain kami putus. Bisa dikatakan pikiranku memang cukup jauh, tapi apa boleh buat lagu ini seakan untuk memperbaiki hubungan kami biarpun kami berdua putus dan masih bisa curhat untuk kesempatan kedua. Aku tidur agak larut malam karna aku menyelesaikan lagu ini butuh waktu beberapa jam dan akhirnya selesai juga

Pagi itu,pagi yang paling pagi yang pernah aku rasakan. Bagiku kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah keyakinan bahwa kita dicintai oleh orang yang kita cintai. Bergoncengan bagi kami adalah hal yang biasa. Hal yang tidak biasa bagiku pagi itu adalah ketika dengan santainya berjalan sambil bergandengan denganku. Tangan yang bisa membuatku tenang kala itu tak mampu kukiaskan dengan kata kata yang ada pada kamusku. Teman-teman malah menJugde aku dengan kata kata yang sangat tak enak kudengar “Lo pake pelet apa ga?”. Ucapan itu seolah olah status pacaran aku dengan sasha hanya olokan saja. Memang benar pagi itu adalah pagi teristimewa tapi pembicaraan itu hanya membuat larut didalam lingkaran hitam disekelilingku.

Malam itu seperti biasanya, aku dan sasha nongkrong ditrampolin. Kala itu, sasha memeluk ku dari belakang “Nah lo.. Ketauan bengong kamunya. Ada apa?…”.”Nggak kok ngerasa ada yang beda nggak sih”. “Ya ada lah.. Seorang Dirga my bestfriend from childhood become my boyfriend now”.” Bisa aja” sambil menarik hidung sasha. Langit yang terlihat sangat terang dihiasi oleh bintang binta dilangit, terkadang kesulitan harus kita rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang padamu. Seperti sekarang.

1 bulan.. kami masih sama seperti baru baru jadian. 2 bulan, 3 bulan kami sudah tidak seperti bulan pertama, 4 bulan aku yang berusaha mempertahankan ini semua, 5 bulan, 6 bulan kami diambang masa masa putus dan aku (lagi) yang tak ingin itu terjadi dan hal yang kecil dapat menyebabkan sasha marah besar aku pun hanya bisa mengalah, tiba pada saat 7 bulan sasha semakin marah marah tak jelas kepadaku. Akhirnya, firasatku dibenarkan. Dia memutuskan pada saat bulan purnama yang sangat terang, aku hanya bisa melihat keatas langit dan memetik gitar akustik yang berada ditanganku. Seminggu setelah putus aku kembali manegurnya seperti dulu, bagaimana pun juga dia tetap sahabat ku sekaligus mantan terindah yang pernah kudapat. Dia mulai bercerita bahwa dia naksir pada radit. Dia mulai membangga bangga adit didepanku menceritakan bagian terbaik dari diri radit. Apalah dayaku, saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti 2 orang berhenti mencintai. Kami hanya berhenti menyakiti satu sama lain.

Saat kami menginjak bangku SMA kelas 3 dan sasha pun akhirnya jadian dengan si radit. Pernah suatu kali aku mengajak radit berbicara “Lo boleh pacaran ama sasha tapi awas lo kalo sampai sasha bilang kalo dia lo sakitin” aku langsung meninggalkan radit. Tak peduli seberapa aku mencoba, aku tak akan pernah bisa menyangkal apa yang aku rasa. Tiap malam sasha bercerita tentang dirinya dan radit yang begitu romantis dan akan langgeng selamanya, aku hanya bisa memujinya dan memberinya beberapa nasehat yang mungkin akan membuatnya lebih bahagia didepan mata radit. Aku mungkin sadar mata sasha seakan mengatakan kalau dia lebih bahagia bersams radit daripada aku. sasha memang berharga dimataku, tak ada alasan bagiku untuk mencari seseorang yang lebih baik darinya.

Tiba saatnya Ujian Nasional, aku bekerja keras untuk mendapat beasiswa ke australia mengambil jurusan ilmu kedokteran disana. Malam itu, seperti biasa kami kembali mempunyai waktu luang (lagi) rasanya. Aku ingin menyampaikan niatku padanya tapi entah mengapa lidahku diam tanpa kata, satu kata pun tak terucap dari mulutku mungkin perasaanku tidak ingin menyakitinya perasaan sayang selalu membayangi dirinya. Setiap detik hanya senyuman yang menjadi saksi bisu jeritan hati ini dalam kesendirian. Radit..Radit..Radit.. nama itu membuat merasakan sakit yang luar biasa.
“Ga, ngga nyangka gua dia bisa kayak gitu pas dia ngajak gua makan malam ternyata di restorannya itu romantis banget deh. Pokoknya gua makin sayang sama dia” dengan senyum yang lebar menceritakan semuanya.
“Ya baguslah.. itukan yang bikin lo seneng? Yang penting lo nggak sakit hati karna dia. Wajar aja sih kalo dia ngelakuin itu lo kan pacarnya”
“Iya sih.. tapi gua senenggg banget” tiba tiba sasha meletakkan kepalanya dipundakku
“ Gua seneng ga punya sahabat kayak lo” gumam sasha dengan nada pelan.

~3 minggu kemudian~
Kelulusan sudah diumumkan, aku dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“ Dirga Cahyadi.. benarkan?” kepala sekolah memanggil namaku
“ Iya pak, itu saya”
“ Selamat atas prestasi yang kamu peroleh saat ini, dengan bangga bapak berikan beasiswa Ilmu kedokteran di Australia.”
“ Beneran ini untuk saya pak?”
“ Iya, silahkan diambil suratnya. Nanti kamu tinggal meminta tanda tangan orang tua dan besok jam 10 pagi kamu sudah dibandara untuk Check In”
“ Baik pak.. Makasih banyak pak.. Makasihh” sambil menunduk senang

“YEEEEEEEEESSSSSS!!! YAHOOOO!!! GUA DAPEETTTTT” sambil berteriak dilapangan basket yang ada dihadapanku.
aku langsung menuju kelas sasha untuk mengajaknya pulang. Kabar gembira ini belum ku sampaikan kepadanya , mungkin nanti malam. Malam yang berat bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya dan malam terakhir bagi kami untuk bisa bermain dan bercanda diatas trampolin ini.
“Sha.. Ada yang mau gua omongin sama lo”
“ Apaan?” sambil meloncat loncat diatas trampolin sambil menyanyikan nada lagu kesukaan radit
“ Gua dapet beasiswa”
“Terus? Beasiswa dimana? UGM? UI? Atau ITB?”
“Di Australia sha”
“APA??!!” langsung berhenti melompat dan duduk disampingku
“ Gua dapet beasiswa kedokteran di Australia”
“Terus? Lo terima?”
“Iya.. gua terima. Itukan cita cita gua dari kecil”
“ Serius lo mau pergi? Kapan lo pergi?”
“Besok. Jam 10 pagi”
tiba tiba sasha langsung menangis dihadapan ku
“ Udahh… nggak usah khawatir kan ada radit..” jawabku yakin
Shasa masih diam tak berucap seolah olah melarangku untuk pergi besok “Udah nggak apa apa..” sambil mengelus kepala shasa dengan halus
“Gu..gu..a gak bakalan biarin lo pergi”
“Udah nggak apa apa. Hanya 4 tahun,itupun belum dihitung sama liburan” sahutku menenangkan
“ oke.. pokoknya setiap liburan setiap hari gue habiskan sama lo”
“Itu mah gampang diatur”

Kami menyantai agak lama waktu itu, tiba tiba sepupu gua main kerumah gua untuk tidur semalam besoknya setelah dia mengantarku ke bandara dia pulang lagi ke bandung. Waktu yang tak lama untuk sampai dirumahku, jadi dia mau mau saja PP dari rumahku kerumahnya katanya sih perpisahan terakhir untuk tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama. Namanya chandra, seumuran sama aku dan sasha. Kami bertiga dekat cuman yang membedakan antara kami berbeda adalah tempat tinggal. Malam itu aku mengantarnya ke kamar tamu, lalu aku juga mempersiapkan rekaman laguku untuknya. Permainan gitarku menghantarkan chandra masuk kekamar ku “Bro.. bagus juga tuh lagu. Buat cewek ya? Sasha? Bagus tuh bagus. Kasi aja dia nggak bakal kecewa sama permainan lu bro”. Gua hanya memberikan senyuman simpul untuknya . “Tuhkan.. benerkan dugaan gua. Lo masih suka sama Sasha”. “Ya ini usaha terakhir gue, mau gimana lagi?” gumamku lemah. Chandra meninggalkan kamarku.

Saat tidur pun terlupakan, cahaya pagi yang aku sambut bersinar cerah. Koper sudah tersusun rapi kamarku, headset yang melingkari leherku, jaket kulit hitam yang sudah kukenakan. Sasha, chandra, dan kedua orang tuaku siap mengantarku ke bandara. Kami pun langsung berangkat, kaset yang sudah berisi lagu yang kubuat tinggal menunggu waktu memberinya. Sesampainya dibandara kepala sekolah sudah menunggu untuk mengumpulkan surat persetujuan dari orang tua.

“ Sasha.. lo harus dengarin lagu gua setelah gua berangkat ke ausi. Nih kasetnya”
“ Lagu lo? Lo buat sendiri”
“ Sebenarnya khusus buat lo” sambil berjalan meninggalkan semua yang akan menjadi kenangan
“ Da.. ma.. pa… Dirga berangkat dulu” teriakku kearah mereka

Kakiku melangkah ke dalam badan pesawat. Hp yang dalam mode airplane pun diaktifkan, musik tanpa henti menggumam di telingaku. Pikiran yang tersarang diotakku masih “Apakah dia suka? Apa aku terlihat bodoh?”. Malam pertama diapartemen australiaku, aku sibuk membeli kartu perdana yang paling murah dan nggak putus putus. Sibuk memikirkan hal hal yang tak penting semisalnya hal tadi. Tiba tiba bbm ku berbunyi, ternyata Sasha mengirimkan vn “Izinkan aku menjadi waktu.. waktu yang selalu mengingatkanmu akan cerita kita. aku ingin menjadi waktu, karena aku ingin selalu bersama” sebuah bait yang ada dilaguku. Aku membalas “Kamu suka lagu itu?”. “Suka.. suka banget. Maaf kalau selama ini gua nggak peka sama lo”. “Nggak apa apa.. gua cuman pengen kita jadi sahabat yang nggak pernah lelah meskipun gua masih nyimpen perasaan sama lo. Bagi gua kebahagiaan lo kebahagiaan gua juga”. “Makasih buat semuanya. Untuk sekarang gua belum bisa nerima lo karna gua masih sama radit”. “Kan udah gua bilang tadi.. jadi nggak usah diulang”.

Chat kami berakhir, aku senang karna dia meresponku dengan respon yang postif. Aku terbayang ketika kami menertawakan sesuatu yang tak penting sambil menatap mimpi yang sama jika aku dengarkan dengan seksama, aku masih bisa membayangkan suaramu yang msaih menyelimuti pikiranku. Diluar dugaanku ternyata aku tak bisa pulang saat liburan karna aku mengambil pekerjaan tambahan untuk menambah uang jajanku dan menabung untuk menlanjutkan kuliah S2ku di australia juga, aku juga jarang komunikasi dengan sasha. Tapi dibalik semua itu aku masih menanyakan keadaan sasha dengannya, aku bilang padanya jaga dia baik baik selama aku masih di australia.

Satu cinta terlahir diantara ratusan juta cahaya. Bahkan jika kau telah berubah atau tak berubah, kau adalah kau, kau adalah orang yang kucintai dan suatu hari saat kita bertemu kita akan membayar semua rindu yang pernah kusimpan untukmu. Kita telah melewati musim yang berganti ganti untuk melihat nasib kita dihari esok dan memilih dari setiap mimpi kita. Tanganmu, itulah apa yang sangat ingin ku genggam berharap aku selalu bisa bersamamu.

5 tahun setelah aku menyelesaikan kuliah tanpa liburan dan masalah. Aku pulang ke indonesia untuk pertama kalinya. Orang yang paling ingin kutemui adalah sasha, aku ingin melihat berdiri dibarisan orang orang untuk menjemput dan memanggil namaku pertama kali ketika aku baru sampai diindonesia. Alhasil harapan ku tak menjadi nyata, sebaliknya hanya chandra orang yang menjemputku dan menyambutku dengan sambutan brotherhood. “Mana sasha?”. “Lagi kerja, dia biasanya belum pulang jam segini”. Wajar saja sasha sudah kerja karna dia mengambil jurusan hukum “Oo.. kerja dimana dia sekarang?”. “Di perusahaan nyokapnya”. “Bagus deh..”. udara di Indonesia yang sudah tidak lama kuhirup, aku rindu dengan suasana trampolin yang dulu setiap hari kita mainkan. Sekarang, trampolin itu bak barang rongsokkan yang tak berguna penuh dengan dedaunan kering menutupi seluruh lingkaran trampolin itu. Aku cepat kembali ke kamar yang sudah mengajari membuat lagu untuknya, manis, pahit, asam, kurasa dengan puas. Kamar yang telah mengajari cara bersikap lebih dewasa terhadap setiap masalah yang kudapat. Suasana yang tak berubah tatanan rapi yang kusiapkan sebelum aku pergi ke ausi masih sama sampai sekarang.

Saat senja dihari itu aku membersihkan trampolin yang sudah mengukir kenangan tak pernah kulupakan. Mengingat kenangan yang mengalir dalam diriku, aku membiarkan kenangan itu terbang menggapaimu. Aku sedang duduk ditrampolin itu, tiba tiba kau datang dengan seorang cowok yang ada dimobil sambil tersenyum simpul arahnya. Dia belum sempat melirikku. Dia menoleh kearahku dan berlari kearahku sambil berteriak “Dirgaaa…” dia memelukku dengan erat sambil meneteskan air mata.
“ Katanya lo mau pulang tiap liburan, lo jahat, lo cuman ninggalin rekaman yang lo buat untuk gua”
“ Maafin gua, gua sambil kerja juga disana. Gua jadi asisten dosen disana, aku sibuk sha”
“ Nggak apa apa, yang penting lo udah disini sekarang dan lo nggak boleh pergi lagi dari gua”
“ gua bentar lagi mau ngelanjutin S2 di ausi sha, lo nggak boleh gitu”
“ dan sekarang gua nggak mau lagi ngebohongin perasaan gua sendiri, gua suka sama lo, gua juga nggak bisa ngelupain lo”

Kita berbaring diatas trampolin itu dan sudah dewasa. Saat kau disini itu benar benar membuatku merasa lega seperti langit yang tampak setelah hujan. Melihat senyumanmu membuatku ikut tersenyum juga seperti halnya anak anak yang polos melihat semua mimpi kita diatas langit yang terbentang. Cinta adalah seseuatu yang tak terbentuk namun cinta sesuatu yang dapat mempererat segalanya dan tak terbatas hari ini, esok, dan bertahun tahun seterusnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s