Diposkan pada Tak Berkategori

SATU NAMA UNTUK DIPENDAM

Seorang laki laki yang duduk dipaling belakang disudut jendela. Pertama kali aku bertemu dengannya ketika menjalani masa ospek selama 3 hari aku seorang murid pindahan yang tak tau apa apa tentang kota itu sebelumnya dan pertama kali menginjak dikota ini. Bahasa daerah juga belum kupahami dengan baik, dari situlah aku melihatnya sedang duduk didepan kursi kayu yang usianya sudah cukup lama untuk bertahan sebaik itu dengan headset merah hitam yang digunakannya seolah olah mendeskripsikannya sebagai sosok yang unsocial. Masa ospek berlangsung 3 hari, aku dengannya kebetulan mendapatkan gugus yang sama untuk dijalani selama 3 hari. Seperti yang aku duga, dia adalah siswa yang unsocial sama denganku. Selama ospek aku diam diam memperhatikannya diam diam kadang kadang aku yang dibuat malu olehnya, dia yang melirikku dengan tatapan yang dingin nan beku. Mungkin dia merasa ada yang memperhatikan nya selama ini. Kepalaku langsung menoleh kearah lain seakan akan tidak terjadi apa apa, anehnya dia tak merasa tersinggung ketika aku dipergoki memandanginya secara diam diam. 3 hari berlalu masa masa ospek berakhir. pembagian kelas tiba, tak kusangka sangka dia sekelas lagi denganku. Aku tak bisa berkata apa apa, sosok itu telah mencairkan hatiku dengan sifatnya yang membuatku bertanya tanya.

Dia lebih memilih untuk duduk dibangku pojok samping dijendela. Mungkin di dunia ini aku orang yang paling beruntung saat pembagian kelompok 2 orang 2 orang secara acak diabsen aku dan dia sekelompok. Ya.. Arga dan Wita nama yang cukup jauh kalo diliat dari absen. Pas mos satu gugus, pas pembagian kelas satu kelas, pas pembagian kelompok pun aku satu kelompok juga. Pak Seto memang terkenal killer disekolah kami, menurut kakak kelas kami dialah orang yang paling sering membuat muridnya sibuk dengan PR yang ada. Awalnya, aku tak percaya dengan gosip gosip yang beredar tapi setelah mengikuti pelajaran semingguan ini gosip itu benar. Dan membuat kami harus sering bertemu dan mengerjakan tugas kelompok dilapangan bersama sama.

“Wita kan?”. “ Emm? Aku?”. “Besok. Dimana?”. “Ditaman safari jam 9 pagi”. “Oke”.

Percakapan yang cukup singkat, tapi bermakna sangat dalam bagiku. Awal yang baik, aku harap akan terjadi akhir yang baik. Pagi tetap seperti pagi biasanya tapi menurutku pagi ini semacam ada bumbu manis yang mengisi hari ini.

Aku duduk ditaman safari. Saat aku melihatmu sedang berjalan diatas langit biru yang indah ini kau sama seperti disaat melihatmu pertama kalinya saat aku jatuh cinta. Baju kemeja yang terbuka dan dalaman baju putih polos membuatmu lebih keren dimataku, beda seperti biasanya tak lepas dari headset merah. Tanpa sadar, aku memperhatikannya sambil melamun. Dia pun mengejutkanku.

“Wita”. “e..eh.. iya”. “Lo dari tadi melamunin apa?”. “Nggak”. “Dasar”. “Mana Kameranya mumpung ada objek yang bagus tuh disana”. “Nih..”

Inilah yang aku suka dari arga, dia selalu membalas ucapanku dengan dingin seperti batu es yang tak pernah mencair dimatanya. Aku menikmati sekali moment ini bedua dengannya meskipun disebaabkan oleh tugas sekolah. sesekali rona pipiku muncul di kedua belah pipiku, detak jantung yang berdetak tak seperti biasanya sudah biasa bagiku untuk menghadapinya. Bahkan ketika bukuku terjatuh, tangan kami tak sengaja bertemu. Tatapan yang dingin itu seakan menusuk hatiku lebih dalam untuk menyukainya. Mungkin selama ini dia takkan pernah mengetahui perasaanku karena aku adalah orang yang menyukai cinta dalam diam.

“ Semakin dalam kau menyukainya dalam diam maka semakin sakit resiko yang kau dapat”.

Dengan seiring berjalan lah waktu, aku berteman denganya. Sekarang, arga bukanlah orang yang unsocial. Dia bisa berteman denganku, jarak diantara kami semakin dekat membuatku sangat nyaman saat berada didekatnya. Kita berjalan dengan bahu berdampingan menertawakan sesuatu yang tak penting sambil menatap mimpi yang sama. Kenangan ini akan selalu kukenang selamanya, moment yang tak selalu datang dalam hidupku. Bisa sedekat ini, merasakan lembut tangannya memegang kepalaku saat aku kehujanan.

Tak pernah aku merasakan gemetar yang amat hebat yang ada ditubuhku ketika aku duduk disebelahnya. Apa karna suasana hujan yang amat deras sehingga membuatku dingin dan badanku merasa gemetaran? Aku tak perduli dengan semua ini yang ada dipikiranku sekarang adalah bersyukur karna aku bisa menemukan orang sepertinya, dia tak pernah meninggalkanku disaat aku sangat senang ataupun disaat aku sedang terpuruk sekalipun dia tak pernah menghilang

“Kenapa sih lo hujan hujan kayak begini? Siapa yang lo tunggu?”
“ Em iya” aku masih tidak bisa mengambil nafas teratur
“ Lo mau nunggu dia sampai kapan?”
“Sampai dia peka sama gua”
“ Kalau lo emang nunggu dia sampai dia peka. Nggak semua cowok itu peka witaa..”
aku hanya terdiam dan menatapnya dengan tatapan dalam
“Ngapain lo ngeliatin gua gitu?”
Senyum simpul yang kuperlihatkan padanya, itu sangat berarti bagiku
“ Sekarang kita pulang, mumpung ujannya udah reda tuh”
aku hanya terdiam saat dia menarik tanganku beranjak dari bangku taman
“ jangan kira kalau gue ini stalker lo, gua dateng karna gua kebetulan juga mau pulang”

Masih berbicara dengan kata yang dingin nan beku, itulah Arga. Aku masih mengaguminya saat rona merahnya muncul dari orang yang sedingin itu. Aku pernah bertanya padanya “Ga, gimana kalo ada cewek yang ngungkapin perasaannya ke elo langsung?”.
“Yah.. tergantung. Kalau prinsip gua sih kalau cewek itu udah deket sama gua, gua nggak bisa nerima apalagi kalo dia itu sahabat gua, justru cewek yang nggak terlalu deket sama gua peluang untuk gua terima lebih besar.”ucap arga dengan santainya
“Aneh lo, kalo menurut gua sih bukannya gua nggak suka sama prinsip lo tapi kenapa yang udah deket atau sahabat lo yang lo terima jadi pacar? Kan dia udah kenel dan pengertian sama lo?”
“Semua orangkan beda prinsip wit. Tapi kalo lo nanggepin kayak begitu sih juga nggak apa apa. Gua udah trauma, gua nggak mau jatuh ke lubang yang sama. Apalagi berkali kali”
“Jatuh ke lubang yang sama? Cerita dong.. belom pernah cerita soal itu”
“Singkatnya tuh gini, gua pernah pacaran sama sahabat cewek gua dan sikap cewek itu tuh malah kebalik 100% pas gua pacaran. Awalnya sih emang sweet, tapi lama kelamaan gua merasa dia makin jauh. Bahkan, setelah gua putus gua kehilangan dia dan nggak pernah namanya jadi sahabat lagi. Itu yang gua nggak mau”
“Yaelah.. nggak semua kayak gitu kali, mungkin diantara cewek yang jadi sahabat elo itu hanya mau ngedeketin lo sebagai gebetan. Elo nya aja yang nganggep beda”
“Iya sih wit.. tapi untuk sekarang gua nggak dulu deh. Bekasnya itu belum ilang”

Aku masih bingung dengan ucapan arga yang berbicara begitu tajam dan menatap mataku dengan lurus. Atau mungkin dia memberitahuku supaya aku tidak menyukainya? Dia salah. Aku akan mencoba membuatnya tersadar kalau tidak semua sahabat cewek setelah jadi mantan akan meninggalkan ia sendirian, orang yang menjadi mantan bukan berarti benci satu sama lain tetapi akan berhenti menyakiti satu sama lain menurut aku itu sebuah alasan yang jelas. aku ingin bersikap dewasa kali ini, aku tidak ingin menyerah pada keadaan. Walaupun nantinya kau yang akan menentukan jadi apakah kita diakhir cerita ini, aku akan tetap mencintaimu sebisaku. Untuk saat ini mungkin aku hanya bisa mendengarkan semua keluhan dan tentang gebetan yang kau suka, tapi setidaknya aku pernah menjadi bagian dari hidupmu walaupun aku hanya sahabatmu dan tak pernah lebih dari itu. Karna cinta itu berhak memilih.

Iklan

Penulis:

Kamu tau alasan ku bersajak? Karena bersajak adalah satu satunya media ketika bibirku tak sanggup merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s