1 Juta Detik

Lantunan alarm yang sudah menjadi nada setiap pagiku berbunyi, bunyi yang paling menyebalkan yang memulai pagiku. Tapi tidak untuk hari ini yang kujalani, mungkin hari ini aku akan mendapatkan teman baru yang lebih baik dan lebih ramah dari sekolahku yang sebelumnya yang penuh dengan isi anak anak gengsi tinggi kebetulan kepindahan sekolahku bertepatan dengan pindah tugas ayah dan bundaku. Sudah setengah jam setelah aku bangun akupun siap siap untuk pergi ke sekolahku yang baru, kebetulan sekolahku sekarang lebih dekat dengan rumahku yang baru. Suasana baru, rumah baru, sekolah baru, tetangga baru lets start it.

Karna rumahku nggak jauh dari rumah pastinya aku jalan kaki, awan bergumpal dilangit biru cerah berarak mengikuti langkahku. Disepanjang perjalanan ada suatu rumah yang membuatku tertarik dengan gaya rumah eropa era 90’an terlihat lux dan megah, aku sempat tercengang beberapa saat.

Akhirnya aku sampai disekolahku yang baru, aku disambut cukup ramah disana. Aku berjalan jalan disekitar area sekolah, ada nada yang memanggilku dari arah ujung koridor itu. Diam diam aku mengendap-endap mencari tau darimana suara itu berasal, suara itu berasal dari ruang musik. Jari jari yang melentik diatas stut piano itu, tekanan yang tulus dan lembut memainkan lagu beethoven : piano sonata no.23 in F minor. Aku sudah tidak asing lagi mendengarkan lagu itu, tak sadar permainan nya sudah selesai permainan yang membuatku tak bisa mengungkapkan apa apa. Nada yang sempurna sesuai dengan ketukan, kecepatan nada di partitur. aku bukanlah seorang pemain musik klasik tapi, aku adalah anak seorang pianis yang sudah terkenal di Indonesia. Ayahku menginginkanku untuk memainkan piano seperti dirinya, tapi aku tak bisa memaksa diri aku tak bisa menjadi seperti ayahku yang selalu memainkan piano sesuai dengan partitur nada tanpa ada kesalahan sedikit pun seperti dirinya.

Aku tak tau siapa nama laki laki itu? Jari jari yang panjang, Rambut seperti arima kousei *Anime shigatsu wa kimi no uso*. Aku hanya bisa mendengar nada itu pada saat istirahat. Setelah bel berbunyi, aku kembali ke kelas dan alhasil aku tak mengelilingi sekolah dan hanya terhenti di ruang musik. aku dipanggil wali kelasku “Risaa… kesini sebentar”.

“Iyaa.. ada apa ya bu?” dengan tingkah laku keheranan
“Kamu bisa main piano?”
*aku terdiam sejenak*
“Bisa bu, tapi saya suka gopoh untuk menyelesai nadanya”
“ Nggak apa apa, kamu masih punya waktu 2 bulan untuk mengikuti kompetisi Duet Piano Competition”
“Duet?”
“Iya.. kamu bisa belajar dengan partner kamu. Besok temui ibu diruang musik saat istirahat.”
“ Diruang musik saat istirahat bu?”
“ Iya.. kamu udah tau ruang musik dimana kan?”
“ Emm..mm.. sudah bu sudah”
“ usahakan dirumah kamu juga latihan lagu beethoven : piano sonata no.23 in F minor”

Eitt.. tunggu. Ruang musik, saat istirahat, main piano dengan lagu yang sama?? Apa mungkin aku akan bertemu sosok yang itu? Yang memainkan stut piano dengan sempurna?. Aku tidak sabar menanti latihan dihari esok, sepulang sekolah aku langsung mencari file nada lagu yang disimpan ayahku didalam sebuah map. Tiba tiba ayah menerguku yang sedang mencari sesuatu

“ Cari apa sa?”
“ Eh ayah.. lagi nyari partitur lagu beethoven : piano sonata no.23 in F minor yah”
“ oh partitur itu nggak ada disitu. Partitur nya ada didalam lemari ayah. Tumben nyari partitur. biasanya, kamu nggak mau main piano”
“ Gini yah.. wali kelas aku mendaftar aku di kompetisi Duet Piano competition 2 bulan ke depan yah”
“ yang bener? Kamu ikut? Sini ayah ajarin cara main yang bener supaya kamu nggak salah salah. Main piano itu pake hati, bukan cuman pake jari yang panjang”
“ Bener yah.. oke deh yah, ini lagi mau latihan.”

2 jam kemudian, setelah mencoba lagu itu

“Yah.. kok susah banget sih mau sama dengan yang dipartitur? Kalo gini males risa yah”
“ baru juga segini udah mau nyerah?”
“Emm.. bisa dibilang iya”
“ Baru juga segini, ayah dulu waktu pertama belajar juga kayak kamu banyak ngeluh. Tapi nenek kamu memotivasi ayah supaya jadi pianis yang hebat kalo sudah besar. Dan sekarang ini hasilnya.”
“ Tapi aku nggak mau jadi pianis kayak ayah. Aku main piano cuma buat lomba nanti”
“ untuk sekarang kita istirahat dulu” tegas ayah.

Rupanya, istirahat itu adalah istirahat sampai keesokkan harinya. Aku masih berjalan dijalan yang sama seperti kemarin dan pesona yang sama dengan rumah bergaya eropa itu, tak sedikitpun keterpesonaan ku berkurang. Aku selalu menanti nanti jam istirahat, ingin mengetahui siapa yang berada dikursi piano itu dan jari jari yang panjang itu. Saat istirahat, aku tak sabar masuk ke ruang musik berlari ke ujung koridor itu. Dari jarak 1 meter sebelum aku sampai, suara itu ada lagi seperti kemarin. Aku langsung mengetuk pintu musik dan permainan itu berhenti sebentar.

“ Eh risaa.. perkenalkan ini partner kamu, adit” wali kelasku mengenalkan
“ Hai, adit “ mengajak bersalaman
“ Hai, risa” kami berdua bersalaman

Tidak salah lagi, jari jari itu memang panjang dan memang cocok untuk menjadi pianis berbakat seperti ayahku.

“kamu bisa mulai sekarang”
“ambil posisi duduk di piano putih itu”
“Iya..”

Kami pun memulai latihan beethoven : piano sonata no.23 in F minor, berulang kali aku membuat kesalahan dari mulai sedikit sampai yang fatal kadang aku meraasa kasihan dengan adit yang berduet dengan pianis yang tak berbakat sepertiku.

“ Stop..stop..stop.. kamu nggak latihan dirumah?” ketus wali kelasku kepadaku
“Latihan bu”
“ Kalau kamu latihan mengapa latihanmu kacau?”
aku hanya terdiam tak berkutik apa apa. Aku siap menerima resiko ini dan aku masih merasa kasihan ke adit.
“ mulai sore ini, kamu latihan dirumah adit. Ibu nggak mau tau, satu bulan sebelum kompetisi itu dimulai seenggaknya kamu udah bisa memainkan nada tanpa salah tekan”.
“Adit, setelah ibu keluar kamu ajarin dia yang bener”
“Iya bu.” Kata adit dengan lembut.
wali kelasku meninggalkanku bersama adit diruang musik
“pertandingan ini berarti buat gua, Gua mau ngambil beasiswa musik di amrik setelah ini. Jadi kalo lo nggak serius mending nggak usah ikut” sambil memandangku
“ Sori.. gua nggak bermaksud nggak serius. Gua juga dulunya seorang pianis cilik terkenal dan gua berhenti gara gara ngeliat bokap gua yang setiap hari bekerja dengan pulang kelelahan”
“ bokap lo pianis?”
“*hanya mengangguk*”
“ tolong, gua butuh kompetisi ini untuk membuktikan ke nyokap gua bahwa gua tuh mampu untuk bersaing diantara pianis diamrik”
“ Gua usahain, ngomong ngomong rumah lu dimana?”
“ Ini di komplek depan sekolah yang rumah serba putih. Kebanyak orang bilang, rumah gua itu kayak rumah eropa tahun 90’an”
“ Rumah itu? “
“ Rumah apa?”
“Nggak jadi deh..”

Aku tak bisa berkata kata hari itu. Mungkin hari ini memang hari keberuntunganku atau memang kebetulan aku seperti bisa bertemu sosok arima kousei didunia nyata, nggak terlalu mirip sih mukanya tapi setidaknya aku bisa melihat sifat arima kousei didalam dirinya. sepulang sekolah aku berusaha keras belajar dengan ayahku yang sabar melatihku memainkan dengan nada yang sama berulang kali, hampir 3 jam selama aku berlatih dan aku tidak menunjukkan perubahan sedikitpun masih dengan ketukan yang cepat dan tidak beraturan seperti kereta api tiada jeda. Mulai dari situ aku mulai tampak menyerah mengikuti kompetisi tersebut dan berniat untuk mengundurkan diri besok, tapi sosok adit terbayang dikepalaku seakan akan permainan yang kudengar pertama kali itulah yang paling membuatku terkesan. Semangat yang tumbuh kembali, sore ini aku pertama kalinya menginjakkan kaki dirumah megah nan mewah itu.

“oke kita mulai latihannya” kata adit sambil berdiri disampingku
beberapa menit kemudian~
“Stop..stop.. bisa nggak sih lo nekan piano itu dengan perasaan”
“yah.. mungkin bisa”
“Mungkin? Pesimis lo” adit yang mulai menyolot
“Iya gua bisa”
“Nah, gituu.. lanjut..”
setelah berulang kali mengulang kata stop adit mulai memberitahuku rahasia dia memainkan musik dengan sempurna.
“bermain musik itu bukan sempurna, tapi maksud yang sempurna”
“Maksud yang sempurna?” dengan heran
“Iya, sesuatu yang lo nggak bisa ungkapin lewat kata kata. Musik mampu menyampaikan maksud lo dengan sempurna. Music speak louder than words”
“Nggak ngerti” sambil memandangnya dengan makna
“ Bego lu, yang gitu aja nggak ngerti. Lo pernah jatuh cinta?”
“Nggak pernah”
“Pantes aja.. dari muka lo aja udah keliatan jomblo akut”
“Kampreett lu”
dia tertawa tertawa terbahak bahak depanku sambil membawa bawa nama jomblo akut yang sangat membuatku jengkel. Ternyata sifatnya beda dari arima kousei. pikirku dengan bermain piano yang sempurna mungkin sifatnya kurang lebih arima kousei, dan nyatanya itu adalah ilusi belaka yang hanya ada di anime anime shoujo dan romance. Didunia ini nggak ada yang namanya happy ending, dimana setiap pertemuan tak disengaja itu bisa berubah jadi cinta atau jatuh cinta pada permainan musik pertama. Yang ada didunia ini cowok itu nggak selalu peka sama perasaan cewe dan sekarang perasaan itu sedang gua jalanin 1 juta detik sebelum kompetisi dimulai. Perasaan cuek, dingin, dan menjudge orang seenaknya sudah menjadi kesehariaan ku bersama adit. Kata kata adit membuatku tersadar mulai saat ini dan perasaanku kepada adit akan kusampaikan lewat nada nada yang lembut ini. Akan kupersembahkan permainanku yang sangat tulus nantinya, bagaikan bunga sakura yang bermekaran dimusim panas. Jam latihan yang mulai kutambah menjadi 5 jam/hari pada 1 juta detik setelah ini aku akan menunjukkan semuanya, semua luapan perasaanku diatas stut stut piano putih dan hitam itu. Perasaanku layaknya stut putih yang mendominasi dipiano sedangkan kau hanya stut hitam yang untuk menyatu pun tak mungkin rasanya. kau akan selalu berada diatas dengan perasaanmu yang sedikit menunjukkan keegoisan belaka atau memang hanya aku yang menganggapnya terlalu berlebihan dan sebaliknya memang perasaanku yang egois selalu mau dimengerti oleh sosok laki laki itu. Aku mungkin tak akan menjadi sebagian dari hidupnya, aku hanya seorang wanita yang hanya menumpang lewat dihidupnya yang akan dilewatinya begitu saja tanpa menyisakan kenangan bersama kekagumanku ini. Aku selalu berfikir ketika aku menekan stut stut piano itu “Apakah aku ini penting untuk dia?” “Apakah dia merasa bahagia saat menghabiskan waktu bersamaku?” dan pertanyaan terakhir membuat jawaban dari semua pertanyaan itu “Siapakah aku ini dalam hidupnya” pastinya aku akan menjawab aku mungkin bukan siapa siapa dihidupnya bahkan aku bingung harus menganggap diriku sebagai apa dikehidupannya, tapi setidaknya aku sudah membuatnya senang biarpun kesenangan itu hanya sebelah pihak dan ia tak merasakan apa apa disaat kami tertawa bersama. Kemarahan karna kesalahanku dalam latihan piano membuatku tersenyum didalam hati dan ingin mendengar omelannya tiap hari, salah satu alasanku untuk latihan. 1 juta detik yang kujalani saat ini adalah waktu yang sangat mengebu-gebu dan kadang membuat jantungku berdebar tak beraturan saat didekatnya, apalagi hanya jarak 30 cm dariku itu cukup membuat nafasku berkali kali tertahan. Latihan yang membuatku semakin akurat saat memainkan piano, membuatu semakin selaras saat berduet dengan adit. Semakin hari pianoku semakin patuh mengikuti aliran tanganku. Saat ini, aku tidak lagi latihan setiap sore dirumah adit, aku hanya diawasi ayah ketika bermain piano di rumah. Komentar ayah makin hari makin membaik membuatku semakin optimis di kompetisi piano itu. Ayah tiba tiba menegurku.

“ayah liat risa makin membaik, kayaknya ada arti deh dibalik nada nada itu meskipun itu memang lagu beethoven. Kayak ada kata kata yang bermakna dan perasaan yang sangat berarti dibalik nada yang risa mainkan”

“nggak kok yah.. permainan pianoku ini hanya permainan biasa yang orang orang mainkan seperti dikompetisi nanti”

“Ayah memang selalu benar, naluri ayah seperti menyatu denganku. Apa karena naluri seorang ayah yang tau tentang anaknya? Mungkin iya”. Ayah hanya tersenyum melihatku menjawab dengan tenang. Sepertinya ayah penasaran dan ingin merasakan dan membuktikan kalau tanggapan ayah itu benar saat lomba itu dimulai.

Hari ini, aku ku perlihatkan, kucurahkan, kuluapkan isi hatiku kepada adit saat memainkan lagu pada partitur nada ini. Setiap partitur nada yang kumainkan saat penting bagiku. 7200 detik sebelum pertandingan dimulai aku mulai latihan memainkan stut stut piano itu bersama adit disekolah. Piano putih yang saat ini kumainkan senada dengan perasaan ku saat ini.

“Nggak terasa ya 300 detik lagi kita nampil dipanggung yang megah ini”
“Hemm.. iya. Dan sebentar lagi aku mau nunjukkin sesuatu”
“Nunjukkin apa?”
“Bukan apa apa”

“Nomor urut 14 SMA Nusantara..” sahut host yang ada dipanggung itu

Aku dan adit berjalan memasuki panggung dan menempati posisi yang tidak terlalu jauh. Kami memulai nada beethoven itu, aku mengiringi dengan emosi dan terlalu bersemangat untuk menyampaikan perasaanku pada adit, tiba tiba aku seperti bermain diatas gumpalan awan biru bersama adit dan adit memandangku dengan penuh pengertian, tatapan yang ia berikan benar benar lain saat itu. Aku mulai memainkan lagi ditengah tengah permainan kelopak bunga sakura seakan berterbangan diantara permainan kami. Aku yakin perasaanku sudah tersampai kepadanya dan akhir permainan kami, aku menyebutkan ‘aku menyukaimu apapun itu’ dalam musik yang tenang dan lembut itu. Setelah kami selesai bermain, para penonton berdiri bertepuk tangan dengan meriah. Tak kusangka diantara juri yang menilai permainan piano itu adalah ayah, ayah berdiri untuk memberikan ku applause. Aku tersenyum kepada ayah. Kami berdua mengucapkan salam kepada dewan juri dan penonton segera menuruni panggung. Aku tak sabar apa tanggapan adit setelah itu. 60 detik kemudian, dia mengucapkan terimakasih padaku atas semuanya dan telah bermain dengan tenang saat ini.

Ternyata semua bayanganku saat bermain piano itu hanyalah ilusi belaka. Adit tidak mengerti perasaan dari nada yang meluap luap dan berusaha untuk memberinya kata ‘PEKA’ hal itu sangatlah sulit bagi seorang adit. Hanya aku yang berharap terlalu tinggi sampai saat ini dan sampai sekarang aku dan adit hanya teman berduet saat kompetisi,, setelah itu untuk memanggil namaku saja tidak pernah. Dua bulan setelah kompetisi berakhir, pengumuman kelulusan pun sudah keluar aku senang adit bisa lulus dan mewujudkan impiannya untuk sekolah musik diamrik. Aku mendapatkan sebuah kotak kecil yang isinya sebuah gantungan kunci piano dan sepucuk surat yang berada disamping gantung itu yang isinya.

Dear Risa,
mungkin ini semua salahku yang menjadi seorang pengecut. Aku tau maksud dari nada yang kamu mainkan saat kompetisi kemarin. Aku sudah menyadarinya 1 juta detik sebelum kompetisi itu dimulai, semangatmu yang menggebu-gebu memainkan nada itu dan selalu ingin memperbaiki kesalahan saat latihan. aku juga menyadari sebelum naik ke panggung kamu memakai kata aku-kamu tanpa sadar. Maaf, kalau selama aku nggak pernah negur atau apapun itu selama disekolah. Aku terlalu pengecut dan aku minta maaf untuk segalanya karna mulai sekarang aku tinggal diamrik. Maaf kalau aku hanya mengucap perpisahan lewat kata kata berparagraf.Aku menyukaimu.

1 Juta Detik
11 Hari 13 Jam 46 Menit 40 Detik
Aditya Ragastia

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 5 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s