Diposkan pada Tak Berkategori

Arigatou, Sayonara

Aku seorang OTAKU, teman teman sekolahku jarang yang mempunyai hobi yang sama. Semua temanku memilih untuk menjadi k-popers. Kalau dihitung hitung dari satu sekolah hanya beberapa yang memiliki hobi yang sama denganku. Aku memiliki rasa suka yang aneh yaitu selalu tergila pada salah satu character yang ada pada salah satu anime sports. Dia adalah inspirasiku bermain basket. Dia bagaikan cahaya yang berada diatasku, disaat aku mengikuti turnamen basket antar sekolah. tujuanku bermain basket hanyalah terpacu pada seorang karakter. Teman-temanku mentertawakanku karna sangat tertarik dan termotivasi pada benda 2D. Aku tak perduli dengan omongan mereka yang merendahkanku. Berkat anime itulah membuatkan jarang kalah, dengan kata lain aku selalu menang dalam turnamen basket. Aku sering dipakai menjadi pemain tetap sekolah.

Setiap harinya, ada saja kertas kertas berwarna warni menghiasi laci meja sekolahku. Aku tak tertarik pada dunia percintaan. Banyak teman sekelasku yang mengira terlalu terobsesi dan menasehatiku agar tidak tergila gila pada benda 2D itu. Apa boleh buat, aku selalu mengulang ulang teknik teknik yang dikeluarkan karakter favoritku itu.

Suatu hari, aku tengah duduk disebuah gazebo sambil terbaring menonton anime kesayanganku. Headset putih yang melingkar dikepalaku. Bel masuk pun bernyanyi, tidak seperti biasa disebrang gazebo. Ada seorang anak laki laki yang juga terbaring disana. Awalnya, aku tak begitu perduli dengannya. Setiap istirahat, kulihat anak laki laki yang sama terbaring digazebo sebrang. Aku hanya menganggap nya sebuah angin lalu.

Sampai pada akhirnya, tiba tiba dia menarik headset yang berada dikepalaku, sambil berkata “kalau nonton itu jangan serius amat kali”. Aku pun menjawab “Biarin aja, kan gak ada yang melarang” sambil menarik satu mataku kebawah. “boleh gabung?”. “Boleh aja, tapi jangan ganggu aku kalau lagi serius”. “kalau aku ganggu?”. “yaa.. gausah kesini. Ini gazebo aku, ini teman hidupku selama aku masih disekolah ini. Paham?”. Aku menjawab dengan ketus tanpa perduli apa katanya. Seketika kami pun hening. Dia yang asik mengutak atik handphone nya sendiri. Aku yang serius dengan animeku. Kami saling acuh tak acuh. Sampai bel masuk berbunyi. Tak sepatah kata pun kutinggalkan padanya, aku langsung pergi begitu saja. Dia berteriak “Besok aku duduk disini lagi yaa? Lika-chan”. Aku hanya mengacungkan jempol kanan ku dari belakang. Eh, tunggu sebentar.darimana dia tau nama panggilan jepangku di grup Line Otaku.

Keesokan harinya, aku berbaring digazebo yang sama. Dia kembali mencabut headsetku sambil tersenyum. Aku hanya kembali memasang headsetku yang dicabutnya tadi. Dia berbaring disebelahku sambil memainkan handphone nya. Aku jadi penasaran apa yang dia mainkan sampai sampai tahan berbaring disampingku. Ternyata, sebuah permainan School Idol. “Penasaran ya? Bilang aja kali, aku kasi tau kok”. “Apaan sih? Rese’ ”. aku hanya terdiam, melanjutkan anime baruku tanpa tau namanya. Bel masuk yang sama berbunyi. Aku pun meninggalkannya (lagi) tanpa bilang.

Berhari-hari dia selalu mengganguku setiap istirahat. Dia seperti stalker yang berusaha menggangu waktu emasku. Ternyata, setelah aku perhatikan. Dia selalu mengikuti kegiatan extraku. Selalu melihatku dari kejauhan. Aku baru menyadarinya. Aku pun mulai memanggilnya duluan, “Heii..”. “aku?”. “ya, kau.. penggangguku”. “Siapa juga ganggu?”. “Terserahlah.. ngomong ngomong namamu siapa?”. “Kenalin aku rizki kelas 11 IPA 1”. “Wuiihh.. Anak IPA”. “Yaelah, kamu juga anak IPA kali”. “hahaha.. iya anak IPA 2”. “Tuhkan.. Lika-chan”. Kami berdua memutuskan untuk pulang bersama setelah latihan basket tadi.

Semenjak itu, kami menjadi teman akrab. Aku selalu memintanya untuk menemaniku kemana mana. Dia sudah kuanggap sebagai abangku sendiri. Abang yang perngertian, selalu ada, selalu mau diajak kemanapun, dan abang yang baik hati. Kebiasaan kami selalu duet basket setelah pulang sekolah. abang, selalu tak bisa mengalahkanku. Sekeras apapun dia mencoba dia tak pernah menang. Pernah sih menang, tapi perbandingan nya 1 : 100. Dia pernah mengejekku “Badan karet”. Karena pergerakan ku yang lincah dan lentur seperti karet yang selalu meloncat sambil melempar bola ke ring.

Suatu ketika, aku tak melihat kelibat rizki selama seminggu. Apa yang membuatnya tak masuk?. Aku kesepian, tak ada yang menemaniku main duet basket dan selalu kalah. Aku mengirimi pesan padanya “Ki, kenapa gak masuk?”. Dia hanya menjawab “Aku baik baik aja kok, gak ada yang aneh. Bentar lagi aku masuk kok. Khawatir ya?”. “Nggak kok, Bakaa.. cepat masuk ya bang J”. Emot yang menginginkannya cepat masuk ke sekolah. dia tak pernah memberitahuku bahwa dia dirawat dirumah sakit. Akhirnya, ketika aku ingin memberikan piagam turnamen basket diruangan kepala sekolah, terlihat kedua orang tua rizki sedang memohon mohon kepada pak kepsek. Tak sengaja terdengar suara ibu rizki yang menangis “Tolong pak, berikan rizki kesempatan untuk naik kelas. Dia bukannya malas tapi dia punya penyakit kanker otak”. Hah, rizki punya kanker otak. Sontak air mataku langsung menetes dipipiku. Aku tak sanggup mengeluarkan kata kata. Mengingat abang seminggu yang selalu yang masih duet basket denganku. Setelah, aku memberi piagam kepada pak kepsek, aku mengetik sebuah pesan “Ki, kamu dirumah, nanti sore aku kerumah ya?”. Rizki menjawab “Gak bisa ka, gua ada dirumah sakit”. “ruangan berapa?”. “gua mau jenguk”. “ruangan tulip 045”. “oke, nanti jam tigaan aku kesana”. “Aku tunggu”.

Waktu jenguk ku berlangsung. Aku membawakan bermacam macam buah berharap hidupnya akan berwarna warni seperti dulu.

“ Ruang tulip.. ruang tulip nomer 045. Dimana ya?” sambil celingak celinguk di hadapan pintu pintu dirumah sakit. “Ini dia”

Suara pintu terbuka.. aku melihat rizki terbaring lemah dikamar itu. Infus dan jarum melingkar di pergelangan tangan rizki membuatku tertegun sekejap.

“ woi, ngapain lo terdiam disana. Sini masuk. Kantong yang ditangan lo untuk gue ya?” dengan PDnya dia mengatakan dan senyum simpul khas rizki keluar

“Heh? Iya, benter. GR banget lo. Yaudah nih buat lo”
kami berdua lalu tertawa kecil

“ Eh.. kapan kapan main duet basket lagi yuk disekolah. Udah lama nih gak main sama lo. Kangen gua, badan karet”.

“ lo fokus dulu deh buat sembuh, gua sih gampang aja main basket. Ciee.. gua ada yang ngagenin”

“ Iyaa… lo selalu siap nemenin gua kan?”

“ Nemenin main basket sih, pasti siap. Apalagi sama lo, lo kan selalu kalah”

“ Ka, ada yang mau gua omongin nih”

“Ngomong aja lagi, mumpung gua masih disini”

“ Gua suka sama lo “

“ yaelah.. lo becandanya keterlaluan ki”

“ yah.. nih anak dibilangin. Beneran, serius gua ”

Rizki menatap mataku dalam dan semua hening sejenak

“ Gua gak bisa jawab sekarang ki “

“ ya ga apa apa, santai aja lagi. Tapi selama gua nunggu jawaban itu kita masih teman kan “

“ Pastinya.. “

Kami berbincang bincang seolah waktu begitu cepat berjalan. Matahari merah yang akan tenggelam menyorot kamar rizki dari jendela.

“ eh ki.. gua cabut dulu ya? Ada janji sama anak basket sih tadi disekolah, tapi gua kesini dulu”

“ Arigatou Lika-chan”

“ Dou Itashimashite Rizki-kun”

Segera aku menuju sekolah dan berlari ke ruang anak basket.

“ sorry ya telat? Gua jenguk temen bentar tadi “

“ ah gak apa apa, lu mah udah biasa gak pernah tepat waktu padahal lo ketua klub. Hemm..” Rara, wakil ketua basket menghela nafas panjang

Aku hanya bisa tertawa kecil.

Hari ini aku latihan tidak seperti biasanya, pantulan bolaku tak selalu masuk ke ring. Biasanya shoot bola ku selalu masuk, sampai sampai aku ditegur rara.

“ Cukup.. cukup.. Istirahat 10 menit “ teriak rara kepada seluruh anggota yang main

Dengan cepat rara menepuk pundak ku “ Lo kenapa sih ka? Dari tadi lo gak fokus sama bola yang lo mainin.. dimana jagoan gua yang selalu membara setiap ngeliat bola basket”

“ Kali ini situasinya beda ra, gua gak fokus ada alasannya. Gua lagi banyak masalah, sorry ya? “

“ boleh boleh aja sih lo banyak masalah, tapi menurut gue semua masalah coba lo lampiaskan lewat permainan lo. Itu salah satu jalan keluar untuk masalah lo. Tapi itu menurut gua sih. Coba aja, sapa tau mempan sama lo”

“ Ya udah deh, gua coba. BTW thanks ya? “

Belum sempat rara menjawab, tangan aku ditarik rara kelapangan untuk membuktikan cara rara. Skor reguku mulai membaik yang tadinya 20-10 sekarang menjadi beda tipis 20-18. Semua tenagaku aku lampiaskan terhadap bola dihadapanku. Sekarang skor berbalik, reguku memimpin. Akhirnya pertandingan selesai dengan skor 26-46. Skor yang cukup jauh, gimana gak jauh aku ngeshootnya terlalu hobi sih..

“ Itu tuh baru jagoan gua.. Gimana? Manjur nggak? “

“ Wuihh.. Hebat lo ra. Lo belajar jurus darimana? Masalah gua hilang sejenak. Saat gua main, gua merasa kayak semua orang itu masalah gua dan gua harus lewatin itu semua. “

“ Ya dong.. Secara gua gitu kan? Wakil ketua basket yang paling kece” sambil mengangkat kerah baju basketnya

“ Yaelah.. banggain diri sendiri. Gua cabut dulu ya?”

“ Oke bro”

Aku langsung pergi keluar dari gedung olahraga dengan memegang hpku. Aku sedang mengetik ngetik pesan yang pada akhirnya ku hapus lagi.. tulis lagi.. hapus lagi. Penerima sms tersebut tak lain adalah rizki. Jawaban apa yang harus kuberikan untuknya? Penolakkan? Penerima? Atau ku biarkan saja sampai rasa itu muncul. Aku memutuskan untuk pulang kerumah. Setelah aku membersihkan diri, sms itu muncul dihpku “Rizki”.

Udah Pulang? Gimana latihan basketnya? Gua jadi pengen main nih.
Udah dong.. kacau.. gua lagi gak fokus main hari ini. Yah elu.. gua temenin deh kalo lo udah sembuh, gua JANJI
Loh kok kacau? Pasti kagami taiga gak nemenin lo tadi LOL!
Bosen gua dirumah sakit terus.. anime terus.. gua jadi gak ada kegiatan. I’m Bored.
Dasar Maniac Kagami Taiga!
soal jawabannya gua tunggu besok dirumah sakit. Kalo lo dateng kerumah sakit jam 3 berarti jawaban lo “YA” tapi sebaliknya kalo lo nggak dateng berarti kita cuman enak jadi “Teman”.
Bukan apa apa kok, cuman gak fokus aja. Kagami taiga itu selalu disamping kali.. bahkan saat gua tidur LOL!
Udah deh.. gua gak sabar mau liat lo sembuh, lo nggak usah khawatir.

Aku tak menjawab sms nya yang terakhir itu. Aku hanya memutar mutar bola basket yang berada disampingku. “Ya.. Nggak… Ya… Nggak… apa yang harus gua jawab” teriak gua sendiri dikamar.

“ Kalo gua jawab iya gua akan menerima hasil dari apa yang gua tanam. Tapi kalo gua jawab nggak, belom dicoba belum tau.dia punya penyakit yang nggak bisa sembuh dan pastinya dia bakalan pergi ninggalin gua untuk selamanya. Gua nggak mau dia ninggalin gua, gua gak rela. Disatu sisi gua juga mulai suka sama rizki. Aaaaaaaaaaaa chikusso.. Baka.. Baka.. Bakaaa… “ kesalku sendiri

Setekah gua berfikir satu satu, gua mencoba untuk mengambil langkah berani dan sms yang yang nggak sama sekali gua balas akhirnya berbalas

Oke.

Bulan yang mulai terganti menjadi matahari yang sedang memunculkan diri dari sebelah timur. Mulai dari sini, aku mulai memutuskan keputusan yang akan menentukan jalan hatiku ini.

Jam sudah menunjukkan angka 12 siang, pelajaran disekolah hampir selesai dan aku tak tau apa yang harus kupilih. Siang itu jam 1 siang aku berlari ke lapangan basket indoor yang berada disebelah gedung sekolah. decitan sepatu basket yang kukenakan sangat terdengar jelas ditelingaku. Aku berlari di lapangan, menggiring bola tanpa tujuan dan memasukkan ke ring tanpa tujuan dan lawan. Aku terus lari.. lari dengan sekuat tenaga, dan saat itu air mataku terhempas bersama keringat kebingungan ini. Ingatan memori itu menjadi hitam putih saat aku duduk di bangku tepi. Aku melihat sesosok cewek dan cowok sedang bermain basket dengan tertawa lepas, saling mengejek, saling menjatuhkan satu sama lain. Tanpa sadar, aku sudah mulai memikirkan rizki. Seorang yang telah memberikan warna dihidupku, datang dikehidupanku secara misterius.

Jarum panjang sudah menunjukkan angka dua belas dan jarum pendek ketiga. Rizki tak mengabariku dengan satu kata pun. Jawaban tak satu pun keluar dari pikiranku, keringat yang sudah keluar bercucuran tak lekas membuatku tenang. Aku duduk merunduk dibangku. Apakah aku harus menjawab YA? Atau sebaliknya?. Aku memutuskan untuk pulang kerumah. Ditengah jalan aku berfikir untuk menemuinya dirumah sakit aku menoleh ke jam tanganku yang ada dipergelanganku jarum panjang masih menunjukkan ke angka empat. “Aku telat 20 menit, aku harus cepat menemuinya sebelum terlambat”. aku melaju dengan kecepatan 80 km/jam, aku mempercepat secepat mungkin dan menjawab pertanyaan itu.

Sampai dirumah sakit, aku langsung berlari menuju lift dan memencet lantai 3 rumah sakit dengan tujuan kamar tulip no 045. Sesampainya aku disana, kamar ruangan itu sudah kosong, aku terkejut. Tiba tiba ibu rizki menyapaku “Hai, kamu temannya rizki ya?”. “Iya tante”. “Ada apa ya?”. “Emm… nggak lagi ada perlu aja sama rizki” bola mataku yang tak berhenti mengerling keluar dan cemas. “kamu namanya Lika ya?”. “Iya tante”. “Oo ini toh yang namanya lika.. pesen dari rizki kalo ada cewek yang namanya lika dateng. Bilang sama dia ‘Makasih udah mau dateng, aku senang’”. “gitu ya tante? Oh iya tante, ngomong ngomong rizkinya kemana? Udah boleh pulang?”. “Rizki nya lagi kemotrapi di ruang radiologi, Tadi rizki itu nungguin kamu”. “ Aku boleh liat nggak” menyesal karna tak pergi tepat waktu. “Oh.. boleh dong sini ikut tante. Tapi kamu hanya bisa liat dari kaca luar ya..”. “Iya tante, nggak apa apa kok” akunyaudahkhawatir.

Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit, rupanya ruang radiologi tak jauh dari ruangan rizki dirawat. “Itu rizki” sahut tante menegurku. “E..ee..h.. Iya tante” sahut ku yang sedikit terkejut saat ditegur tante.

Aku melihat semua alat yang menempel pada seluruh tubuh rizki. Angin yang menerpaku membuat air mata yang tak dapat terbendung lagi, maksud hati ingin menemuinya dalam keadaan sehat, senang, dan apalah artinya aku menerima pertanyaannya kalau keadaan badannya seperti ini. Aku duduk di ruang tunggu radiologi menunduk, membayangkan semua kesalahan cintaku jatuh padanya. Aku takut dia pergi mendahuluiku meninggalkan semua perasaan dan kenangan yang tlah dilewati bersama. Ini bukanlah lelucon semacam dagelan cinta yang hanya bermain peran dihatiku, aku telah jatuh cinta dengan keadaan yang rumit dan tiba tiba.

Matahari senja sudah mulai menenggelamkan diri dan berganti malam yang suram bagiku. Rizki belum juga siuman, hari jadian kami penuh dengan kekelaman dan dipenuhi warna hitam diperasaanku.

Keesokan harinya, kebetulan hari libur. Pagi pagi aku sudah berkemas dengan barang barangku siap untuk pergi kerumah sakit. Mulai sekarang hidupku sudah berubah, tak lagi sendirian dan dikatakan freak. Kamar tulip 045, aku tidak sabar menunggu bercanda dan memberinya jawaban yang diperlukannya kemarin. Tidak seperti dugaanku, dia belum juga siuman. Aku menunggunya seharian dirumah sakit dan betapa tak beruntungnya aku, dia tak siuman pada hari itu. Mungkin aku bukanlah wanita yang beruntung.

Keesokan harinya…
lusa..
2 hari kemudian…
2 minggu kemudian…
1 bulan kemudian..
beberapa bulan kemudian..

Sampai hari ini kami anniv yang ke 6 bulan. Aku berharap malam ini, aku ingin melihat rizki siuman. Tepat jam 21.00 tangan rizki bergerak, “Rizki..” dengan mata yang berbinar binar

“ Happy Anniv yang ke enam bulan ya? Aku senang kamu siuman dan maaf pas hari jadian kita, aku telat. Aku nyesel”

“L..li..kk..ka ch..a..n.. Su..ki de..suu..” sambil tertatih mengucapkan kata yang membuat ku menitihkan air mata

“A-ri-ga-tou rizki-kun” sambil menggengam tangannya dengan erat

Setelah menyebutkan kata arigatou rizki kembali tidak menyadarkan diri. Aku berusaha kuat dan tegar menghadapi semua ini. Saat itu, aku tidak menitihkan air mata karena bagiku aku sudah biasa menghadapi semua ini.

Kata kata itu sangat sangat berarti bagiku. Tak semua kesempatan aku bisa mendengar hal sederhana tapi sangat berarti bagiku. Penantianku selama ini, menunggunya adalah hal yang terberat.

2 bulan setelah dia siuman, aku mendengar dari orang tuanya harapan rizki untuk siuman lagi itu hanya 1% dan hanya keajaiban yang membangunkannya lagi dalam waktu yang lama. Aku semakin sering ke rumah sakit, aku keluar dari klub basket, nilai ku sedikit menurun, anime ku jarang diupdate, semua terbengkalai dan aku hanya berharap rizki bisa siuman dengan senyuman yang indah terhias diwajahnya. Bisa tertawa lepas dilapangan basket bersamaku lagi, mungkin harapanku terlalu jauh untuk memintanya bermain basket. Tapi, yang paling aku harapkan aku hanya ingin melihatnya siuman dengan waktu yang cukup lama. Harapan itu pupus seketika, ketika melihat alat monitor detak jantungnya berbunyi “titttttttttttttt………….” bunyi yang paling mengerikan yang pernah kudengar selama hidupku. Air mata yang pastinya tak akan terbendung lagi aku menangis dan berusaha membangunnya

“ Rizki… bangun..bangun.. ki.. kita ngggak main basket lagi? Lo udah janji kan?!! Rizki..” aku seperti berbicara dengan nada meyakinkan kalau dia mempunyai kesempatan hidup.

Tapi akhirnya, dokter menutup kepalanya dengan selimut putih rumah sakit. Aku tak bisa berhenti menangis. Aku menyesal kenapa aku datang tak tepat waktu saat itu. Mungkin saat ini aku tidak menyesal jika aku pergi tepat waktu. Aku masih sempat berbicara walaupun dengan singkat. Aku menangis karna aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karna sudah menyia nyiakan waktu berharga bersamanya. Aku ingat saat dia menjadi orang yang misterius saat datang dikehidupanku. Sms terakhir yang mengingatkanku padanya. Tak ada lagi yang menarik headset putihku lagi saat di gazebo. Tak ada lagi yang menemaniku dan selalu kalah saat bermain basket. Tak ada lagi yang mewarnai hidupku setiap harinya.

Iklan

Penulis:

Kamu tau alasan ku bersajak? Karena bersajak adalah satu satunya media ketika bibirku tak sanggup merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s