TEKA TEKI DARIKU

Aku sudah menyimpan rasa padanya. Dia teman satu sekolahku yang selalu kuperhatikan selama ini. Aku yang hanya bisa melihat dari kejauhan, kini bisa mengajak bercanda, tawa lepas yang ku lepaskan bersama dengan kebahagiaanku. Rasa suka ku tak sampai disitu. Aku telah banyak berkorban untuk meraihnya. Kesendirian yang telah kulewati, usahaku yang kulakukan secara sendirian. Semua yang kulakukan hanyalah untuknya.

Saat itu, aku tengah duduk disebuah taman dan melihat sebuah laki laki berdiri dipinggir danau sambil berteriak “aaaaaaaaaaaaaa…….”. awalnya, aku tak menyangka itu dia. Setelah aku berdiri perlahan mendekat ternyata dia. Aku tak berani menegur dirinya langsung. Aku melihatnya dari belakang dan bertanya-tanya apa yang membuatnya berteriak seperti itu. Aku ingin menjadi teman yang bisa memberinya semangat dalam senang dan susah. Aku akan siap menjadi sandarannya ketika dia butuh. Aku siap melakukan apapun jika itu membahagiakannya. Aku tulus.

Sejak saat itu, aku bertekad untuk mengenalnya sebagai temannya. Suatu ketika, aku ditempat kursus, ada anak baru yang masuk dikelasku. Aku tak menyangka itu dia. Aku langsung berfikir, peluangku untuk mengenalnya lebih besar.akhirnya, setelah beberapa kali pertemuan akhirnya dia menegurku. Aku pun senang bukan main. Mulai itu, kami menjadi teman. Aku berhasil menjadi temannya. Aku ingin menjadi teman dekatnya, aku harus menjadi sandaran yang baik baginya.

Awalnya, dia masih tak mau bercerita denganku, latar belakangnya bagaimana. Aku tahu semuanya ketika dia mulai terbuka denganku. Dari situlah, aku mulai menjadi sandaran nya ketika dia butuh. Dia pernah meminta tolong denganku untuk mendekatkannya dia dengan seorang teman sekelasku. Namanya Cici. Aku bersedia melakukannya. Tak lama setelah, aku mendekatkannya dengan cici, dia jadian. Syukurlah, aku masih bisa membuatnya bahagia. Kebahagianmu adalah kebahagianku. Sampai suatu ketika, hubungannya kandas dengan cici. Aku menjadi sandaran curhatnya. Semua yang diluangkannya. Saat itu aku berbicara dengan sendiri “aku yang bisa melawan jatuh bangun cinta ku kepada mendapat teman baru baikku”. Kata kataku yang sontak mengbingungkannya. Akhirnya dia menjawab “Apa yang kau katakan barusan?”. “Bukan apa apa.. aku hanya berbicara dengan diriku sendiri. Jadi jangan difikirkannya. Oke?”. “Oooh.. iya. Ngomong-ngomong, makasih ya udah mau ngedengerin curhatan aku selama ini”. “aku senang, lagian kita inikan ‘Teman’ “. Teka teki itu kudapat dari film Marmut merah jambu, tapi yang berbeda kata kata yang kuubah. Kata kata yang kubuat hanya untuknya.

Aku tak tahu, apakah dia masih memikirkan kata kataku yang mempunyai makna yang tidak biasa atau dia malah berfikiran sama seperti ketika aku menjawab. Ah sudahlah, pasti itu tak penting baginya. Aku sudah maklum jika dia tak menganggapnya penting. Dia pernah bilang padaku “ Aku tidak bisa menerima sahabat atau teman dekatku sendiri suka denganku, karna jika aku menerimanya. Pengalamanku yang pahit akan terulang kembali”. Kata-kata itu sudah membuatku lapang dada untuk menerimanya menjadi temanku, itu sudah lebih dari cukup.

Hari-hari yang kulewati bersamanya selalu sama setiap harinya. Warna yang sama. Rasa yang tak berkurang sedikitpun. Tawa yang sama. Candaan yang berulang ulang yang tak membuatku bosan. Sampai sekarang dia tak pernah menanyakan apa maksud dari perkataan itu. Kadang aku merasa sedih ketika dia selalu menceriakan wanita yang selalu ia kagumi dan berharap menjadi laki laki yang bisa mendampingi wanita itu.

.“ Aku bisa jatuh cinta kepada teman baikku “.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s