Diposkan pada Cerpen

Saatku Bertemu

Berjuta juta manusia terlahir bahkan mencapai bermilyaran manusia didunia ini. diantara orang tersebut mungkin pernah mengalami hal yang sama denganku. aku percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama, tapi tidak sedikit pula yang membantah perkataan itu. cintaku seperti bibit pohon yang mati sesaat dan akan kembali tumbuh pada waktunya. kalimat itu memang cocok dan mungkin memang tepat denganku.

Aku memang seorang yang pendiam, kaku, dan pemalu. Saat pertama aku masuk SMP, tepatnya MOS aku tak mempunyai satu orang teman pun yang kukenal. Aku tidak terlalu pandai bergaul. Terlalu penyendiri, mungkin?. Aku malu saat pertama memulai percakapan dengan orang yang tak kukenal. Aku takut mereka akan mengucilkanku saat aku berteman dengan mereka. Sampai pada akhirnya aku jatuh cinta pada pandangan pertama ke seorang abang kelas yang berdiri ditengah lapangan memimpin pembukaan MOS.

Hari pertamaku disekolah aku tetap tak mempunyai seorang teman, aku baru mempunyai teman pada saat aku 3 bulan lamanya bersekolah, butuh waktu yang lama ya. Temanku yang satu ini orangnya berlawanan sifat denganku. Aku kaku, dia lincah. Aku pemalu, dia pemberani. aku pendiam, dia pembicara yang handal. Aku tak mengerti mengapa dia mau berteman denganku yang bisa dibilang orang yang freak. Dia pernah bilang “Aku melihatmu bukan dari luar melainkan apa yang orang lain tak pernah lihat darimu”, aku terharu dengan kata kata yang seperti itu.

Aku pernah bercerita padanya kalau aku suka dengan abang kelas yang menjadi pemimpin upacara pembukaan MOS. Karna dia udah tau seluk beluk sekolah dan interaktif, dia menceritakan semua tentang abang kelas yang kusukai. Namanya Petra, dia seorang ketua osis, dia seorang yang aktif dikegiatan ekskul, beberapa keluarganya bekerja di SMP itu, dia lahir di kota ini tanggal 27 Maret 1997, dia sangat lemah dipelajaran matematika dan menyukai pelajaran IPA, dia menyukai game online. Aku hanya tercengang melihat nada menjelaskan petra secara mendetail dan tanpa sengaja aku mengeluarkan pertanyaan ini “Kamu suka sama dia?”. Dia langsung tertawa terpingkal pingkal didepan ku “Beneran aja, masa aku suka sama petra. Bukannya gitu, aku ini bisa dibilang kamus Biodata orang orang terkenal disekolah ini. Hampir semua orang yang terkenal disekolah ini aku tau asal mulanya”. Aku jadi merasa bersalah ketika menuduhnya menyukai petra. “Maaf ya? Aku udah berburuk sangka?”. “It’s okay, lagian wajar kok kalau kamu bilang kayak gitu”.

Aku mulai mencari cari data informasi tentang petra di google. Aku mulai mengetik namanya “ Petra Saputra “ semua blog yang terkait dengannya muncul menjadi satu deretan website yang sangat panjang. Aku buka satu demi persatu website yang bernama Petra Saputra. Memang benar, banyak blog tentangnnya tapi tidak sedikit pula orang yang mempunyai kesamaan nama. Akhirnya, bertemulah aku dengan satu blog yang bernama “Mr.Petra Rajawali” sebuah blog yang menceritakan biodata anggota pramuka yang terkenal disekolah. Teman temannya yang sering berkumpul diruang osis atau mengumpul didepan kelas petra. Satu persatu orang orang yang berada didekatnya mulai kuketahui tanpa diberitahu nada. Kebetulan kelas ku berada satu jalur dengan kelasnya, hal yang paling gila yang biasanya kulakukan disekolah adalah, selalu meminta izin kepada guru untuk ke koperasi membeli hal yang tak penting. Misalnya, pulpen. Apalah arti sebuah pulpen yang dibeli jika pulpen yang ada di kotak pensilku masih penuh, tidak masuk akal. Aku selalu ditemankan nada sahabatku yang paling setia menemaniku melewati kelas petra setiap harinya.

Setiap istirahat berlangsung, aku selalu berada didepan pintu kelas. Menunggu petra lewat didepan kelasku. Jika tidak, aku yang akan melewati didepan kelasnya sekali lagi bersama Nada. Aku tau, semua modusku tak dimengerti orang lain selain Nada. Aku selalu menoleh ke arah pintu kelasku saat pelajaran kelasku berlangsung berharap dia lewat didepan kelasku. Mataku yang tak sengaja menatap matamu yang tiada arti, tapi aku bersyukur karna diberi kesempatan untuk melihat matamu. Hari hari yang indah.

Sampai aku memutuskan untuk mengambil tindakan berani. Aku mengirim sms padanya. Aku meminta nomor petra dari sebuah janji pertukaran nomor telpon karna dia juga anggota osis junior angkatan petra. Kesempatanku untuk mengambil peluang. Aku mulai mencoba mengirimnya SMS, awalnya berjalan dengan lancar yang membuatku senang. Tapi, pada akhirnya aku bernasib buruk. Kebetulan disekolahku yang bernama sama ada dua orang, Yukiko Rini dan Yukiko Mine. Yukiko mine adalah kakak kelasku yang duduk dibangku kelas 8 sedangkan aku kelas 7. Petra menganggapku sebagai Yukiko Mine yang duduk dibangku kelas 8. Betapa kecewa aku saat tau semua sms yang selama ini kuketik satu demi satu huruf tanpa cacat, dan betapa ketikan ketikan polos yang kukirim padanya. Satu kata yang paling kuingat sekarang adalah “ Yaya.. You’re the boss :D” sms yang terakhir kali yang kulihat dari inboxku.

Sebelumnya, saat kami masih berkomunikasi aku merasa dia sudah mengenalku dan membalas tatapan yang hadir saat dia melewati kelasku. Sungguh PD nya diriku menyebut dirinya sudah mengenalku Yukiko Rini. Setelah, aku tau semuanya tebakan ku selama ini adalah SALAH. Pikiranku mulai buyar tentangnya.

Musim perkemahan pun tiba, aku ikut ekstrakulikuler bersama Nada. Aku satu regu dengannya. Setelah pembukaan acara kemah yang dipimpin olehNya (lagi). Pandanganku terpaku padanya, tak peduli oleh anak anak lain. Acara membangun tenda pun dimulai, aku mulai memasang bambu dan pasak yang sudah dibawa dari rumah. Tiba tiba kelompok pramuka senior disuruh pembina dari sekolah ku untuk memantau semua junior yang mendirikan tenda, dia datang ke reguku, nada menyenggolku aku tau maksud nada menyenggolku. Aku salah tingkah, pipiku mulai merona berwarna merah, padahal dia tidak melakukan apapun padaku, dasar pemalu. Pikirku aku tak pernah sedekat ini padanya dan aku tak pernah berada disebelahnya membantunya memegangkan pasak tenda. Semua reguku tak tau bahwa aku menyukainya karrna satu alasan yang membuatku masih menyembunyikannya dari orang lain. Aku tak nyaman dengan salah satu temanku yang juga menyukai petra. Maka dari itulah hanya aku dan Nada yang tau.

Acara utama kemah pun dimulai. Api unggun, semua anggota pramuka junior dikumpulkan untuk peresmian acara tersebut. Aku mulai terpaku (lagi) melihatnya berdiri bersama anggota senior yang lain didepan lingkaran junior. Mataku tak terlepas dari sesosok bayangan yang tak pernah kugapai itu.

Tak sampai disitu, acara perpisahan yang menandakan dia akan lulus dari sekolah itu. Aku akan melakukannya, menyatakan perasaan sukaku. Urusan dia perduli atau nggak perduli. Aku santai. Yang penting perasaanku lega. Aku menarik bajunya dari belakang. “Bang, ikut aku ke gazebo, tolong”. Dia pun mengikutiku “Bang, sebenarnya aku sudah menyukai sejak aku pertama bertemu denganmu, aku merubah segala aspek diriku karna dirimu”. Aku hanya mengucap apa yang ingin kuucapkan. Dia sepetah pun tak berkata dan akhirnya menjawab “Aku tau, aku tau kamu. Kamu yang selalu menunggu, menoleh, tersenyum kepadaku didepan kelasku, lewat pada saat jam pelajaran berlangsung. Aku melihatmu. Aku juga minta maaf padamu. Aku juga menyukaimu”.

Sejak saat itu, petra dan aku menjalani hubungan yang membuatku dengannya bahagia. Hari hari yang penuh warna warni kehidupan kulewati bersamanya. Arigatou Petra Saputra.

Iklan

Penulis:

Kamu tau alasan ku bersajak? Karena bersajak adalah satu satunya media ketika bibirku tak sanggup merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s