Diposkan pada Cerpen

Ada sakit yang tak bisa dijelaskan

Rasa sukaku berawal dari menjadikannya sebagai pelampiasan. Ya, itu semua salahku yang awalnya menjadikannya sebagai pelampiasan. Saat itu aku mengalami masa masa terpurukku, dimana saat itu aku tidak bisa berdiri sendiri karna masalah yang tak bisa kujelaskan secara rinci. Aku terkejut ketika aku mendapat masalah yang tadinya tak pernah ku sangka sangka.

Aku menjadikannya sebagai pelampiasan karena aku tak tau harus mengambil langkah apa dan apa yang harus kulakukan untuk diriku sendiri? Sampai pada akhirnya, aku menemukan sebuah komunitas dimana aku bisa menemukan dirinya. Namanya Raka Primadi berumur 15 tahun. Aku mengenalnya pada saat dia menegurku pada sebuah gathering komunitas.

“Hei, leni kan?” sapa raka.
“Iya, ada apa?“ jawabku dengan penuh tanya
“Nggak, boleh minta pin BB?”
“Nih” sambil menunjukkan barcode
“Oke, makasih”
“Siplah..”

Percakapan kami dimulai dari acara komunitas yang diadakan diluar kota. Kolom kolom chat yang berubah menjadi tumpukan kenangan. Kebetulan, kami berada disatu sekolah yang sama. Semenjak itu, istirahat, pulang, kami sering meluangkan waktu bersama.

Awalnya aku mengira kalau rencanaku berjalan dengan baik dan aku dapat mengalihkan teman-teman yang sudah berburuk sangka padaku, tapi aku salah. Semakin lama aku dekat dengannya, semakin lama aku mengenalnya aku melihat sesosok orang yang sangat tegar, dan kepribadian yang ku suka selama ini. Rasa kagumku tak dapat dihindari.

Rasa kagumku terhadapnya seakan tak ada habisnya, senyum yang terukir dari wajahku selalu menghiasi hariku. Setiap pulang sekolah kami selalu mengobrol omong kosong untuk menghabiskan waktu. Kebahagiaan itu tak bertahan lama. Wanita yang tiba tiba datang dikehidupannya yang menjadikannya selalu dekat dengannya menjadikanku seorang wanita yang pencemburu. Kutahu kalau aku tak berhak untuk melarangnya dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Jadi, tanpa kusadari angin yang menghempasku mengeluarkan air mata yang sudah menggenang bola mataku. Terlalu sulit bagiku untuk melihatnya bersama orang lain. Semua memang salahku, yang menganggap semuanya berjalan lancar sesuai rencanaku tapi sebaliknya, aku yang terjatuh dihadapan hatimu tanpa setaumu. Perasaan itu terasa namun tak pernah dikatakan

Keesokan harinya, aku melihatnya menggandeng tangan bersama kekasi barunya yang membuatku semakin merasa terpuruk dan sakit. Dengan hati yang tegar aku mencoba menghadapi mereka dengan senyum yang sebenarnya kupaksakan didepannya. Tawa yang kupaksakan ketika melihat mereka tertawa bersama. Aku berharap, suatu saat aku yang berada disisimu. Keadaan yang paling menyakitkan adalah ketika aku tidak tau harus memilih untuk tetap bertahan atau meninggalkan hati ini bersama dengan bayanganmu.

Suatu ketika dia terlambat kesekolah. Entah apa yang terjadi padanya. Tapi, aku meyakinkan diriku bahwa dia pasti datang. Detik-detik tanpanya membuat hatiku penuh dengan kehampaan tanpa warna. Sejenak aku berfikir kembali dan terus meyakinkan diriku bahwa dia pasti datang. Dari kejauhan aku mendengar sentakan langkah kaki yang tak asing bagiku dan kusadari suara itu berasal dari dirinya. Serentak aku tersenyum dan perasaanku kini begitu bahagia. Kekhawatiran yang menyelimutiku kini telah hilang dengan sendirinya. Bagaiman berjalan didunia yang penuh warna melewati ruang waktuku. Kata kata yang ingin kukatakan padanya ketika dia datang adalah “Kenapa kamu terlambat? Kamu sakit? Atau yang lain? Aku tuh khawatir”. Kata kata yang melanda pikiranku ditepis secara cepat dengan teori logika ku yang berkata “Apa hak lo? Lo mau dia putus? Lo mau masalah itu muncul lagi?”. Pertanyaan yang kupendam sampai sekarang dan tak terucap.

Hari ulang tahunmu tiba, saat saat yang paling kutunggu aku sudah menyiapkan kado sekaligus kejutan yang sudah kukerjakan satu bulan sebelum hari ulang tahunmu. Tapi aku bukanlah orang yang beruntung, aku awalnya senang kau bisa putus dengan wanita yang membuatku menjadi pencemburu. Beberapa hari sebelum dia ulang tahun, dia jadian dengan orang lain. Sudah kukatakan, aku bukanlah orang yang beruntung. Tapi dengan sabar aku tetap memberinya kejutan yang sudah kubuat dengan tujuan aku ingin menjadi teman dekatnya. Semua berjalan dengan lancar, sekali lagi aku mengeluarkan senyum yang kupaksakan ketika melihatnya berterima kasih pada wanita yang baru saja jadian dengannya sebuah ucapan terima kasih yang tulus darinya. Aku menginginnya juga. Tapi apalah untungnya berada diposisiku.

Setelah aku berhasil keluar dari masalah yang rumit, aku mulai memikirkan “Bagaimana aku bisa keluar dari posisiku sekarang?”. Aku mencoba untuk mencari cowok yang bisa kujadikan pelampiasan rasa sayangku terhadapnya. Akhirnya, aku berhasil. Dengan rasa senang, penuh dengan kebohongan aku mengenalkannya kepada raka.

“Ka, kenalin cowok baru aku. Hendri” dengan senyum yang sumringah
“Hai, aku raka”
air mata yang kutahan ketika raka menjabat tangan hendri dengan penuh kesenangan, aku pergi izin ke toilet sebentar.

Aku meluapkan rasa sedih ku disebuah toilet kecil, disanalah aku menangis dalam diam. Air mata yang tak berhenti keluar dari mataku. Aku ingin sekali melihat reaksi raka yang beda.

Hubunganku tak bertahan lama hanya 3 bulan dan kandas ditengah jalan. Sebelum putus hendri pernah bekata padaku “Leni, kau tak harus memaksakan diri untuk menerimaku. Kau harusnya memperjuangkan apa kata hatimu”. Perkataan hendri yang membuatku bangkit dan mulai mempertahankannya (lagi). Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku menyukainya dalam diam dan sakit yang kurasa saat ini sakit yang tak bisa dijelaskan dengan perkataan.

Iklan

Penulis:

Kamu tau alasan ku bersajak? Karena bersajak adalah satu satunya media ketika bibirku tak sanggup merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s