Farewell Poem’s

Mengenang Kita
Karya : Ayu Mayangsr

Tersebut namamu tiga tahun lalu
Putih Abu-abu
Masih kuingat ku kenakan celana putih biru,
Memandang wajah-wajah baru dengan obrolan kaku.

Detik berganti dengan detik yang baru
Menit demi menit terus berlalu
Jam silih berganti ditelan oleh sang waktu.

Aku mulai akrab pada suasana yang mulai berjalan seperti biasanya
Begitu banyak suka dan duka
Cerita yang pernah ada
Takkan mungkin di lupa begitu saja
Canda dan tawa salah satunya
tak ada yang tak membekas saat-saat kita bersama
semua teramat mengenang.

Mulai hari ini dan esok
Takkan ada lagi aturan untuk dilanggar
Takkan ada lagi rambut yang harus dipotong dadakan
Takkan ada lagi julukan candaan
Takkan ada lagi makanan kantin yang pasti dirindukan
Takkan ada lagi kelas yang seketika beralih fungsi sebagai tempat tidur ternyaman
Takkan ada lagi ulangan-ulangan yang harus dikerjakan
Takkan ada lagi kisah cinta dari pasangan terkenal
Takkan ada lagi nyanyian-nyanyian bak suara artis papan atas
Takkan ada lagi teriakkan dari sang bendahara kelas
Takkan ada lagi obrolan merambat saat jam kosong kelas
Takkan ada lagi modus-modusan dengan adik kelas
Dan masih banyak “Takkan ada lagi” yang akan segera menghilang
Saat kita harus mengenal kata perpisahan.

Hari ini dan esok akan menjadi saksi
Bahwa pertemanan kita belum berakhir
Kita hanya akan mengejar mimpi masing-masing
Dengan kembali menempuh jalan yang terbentang panjang.

Saat nanti kita tidak bersama lagi
Aku ingin kita berjanji pada hati
Berjanji untuk tidak pernah melupakan
Melupakan semua kenangan perkenalan dan candaan tentang kita.

Sebuah pilihan yang indah berakhir dengan perpisahan
Terasa begitu nyata saat semua dari kita meraih kelulusan,
mengakhiri cerita kita disekolah tercinta
Menutup lembaran terakhir buku kenangan.

3 tahun, 36 bulan,
144 minggu, 1008 hari,
Terukir berjuta-juta kenangan di dinding sekolah
tiap sudut memiliki cerita.
Gerbang yang dulu selalu menyapa selamat datang dikala pagi
pulang sambil bermain.
Sapa dan canda tawa teman berseragam yang takkan pernah terdengar lagi nanti.

Iklan

Can’t Ignore

30 Maret 2018

Siapa sih yang dak mau perasaannya terbalas? Setiap orang ingin tahu dan pasti berkeinginan. Walaupun mereka tahu kalau mereka tak pantas.

Untuk sebagian orang mungkin terlihat mudah perasaannya terbalas. Tapi bagi mereka yang tidak pernah, mungkin hal itu yang akan menjadikan mereka selalu bertanya-tanya tentang apa artinya dicintai oleh seseorang.

Mereka mungkin pernah dan sering berkata jika mereka tidak perlu. Alibi mereka selalu begitu agar tidak terlihat lemah diantara mereka yang sedang dicintai. Tapi nyatanya? Mereka sangat ingin dicintai tanpa merasa sakit hati.

Luka mereka sudah sangat mengiris, hingga mereka terlalu tahan untuk berdiri diatas duri menggergaji.

Bagi mereka, mencintai seseorang adalah sebuah petaka. Karena mereka tahu mencintai adalah hal yang sia-sia ketika mereka tidak terbalaskan. Bahkan ditolak bahasa kasarnya.

Satu dari sekian banyak alasan menjelaskan bahwa mereka sudsh muak dengan semua jalan cerita yang sama. Hanya satu cerita dengan berbagai alur cerita. Semua seakan mempunyai tahap mencinta dan dibiarkan saja.

Apa mungkin suatu saat mereka akan dicintai seperti mereka mencintai?

Mereka tak akan pernah siap terima, apa yang terjadi didepan mata.

Still Try

30 Maret 2018

Aku mencoba, untuk tidak bertanya tentang kabar dan dimana kamu. Aku sedang mencoba untuk tidak menuliskan beberapa hari terakhir.

Sedikit susah. Awalnya.
Tapi untuk sekarang sudah tidak, aku berusaha untuk tidak berurusan denganmu lagi.

Aku sengaja, menghilangkan namamu dari apa-apa yang membawa rasa dan tidak diinginkan. Rasanya ada ruang kosong yang tidak ada ujungnya.

 

Cukup Disini

24 Maret 2018

Aku tak tahu harus berhenti untuk menulis mu darimana, karena selama ini tulisanku hanya di dedikasikan oleh dan untuk kamu.
Aku hanya menceritakan dari sudut pandangku tanpa persetujuan mu sama sekali, aneh? Semoga saja pandanganku tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi.
Boleh aku berhenti hanya untuk sekedar berhenti menyakiti diri sendiri?
Jujur, aku tak tahan dengan semua kecanggungan ini, aku ingin berhenti.

“Diam boleh, mundur jangan” katamu. Aku takkan heran jika yang kamu ceritakan bukan aku. Kamu tahu, dibalik kata-katamu yang seperti itu ada segelintir orang yang menderita karena terus menerus membiarkan luka yang terbuka tapi tak berdarah. Sekedar informasi, rasa yang terus menerus dipendam akan membuat luka yang lebih dalam pula. Karena tak semua orang, bisa memperlihatkan rasa kejatuhcintaan mereka secara sempurna. Mundur adalah salah satu cara mereka bertahan dari luka yang terus menerus kamu lakukan padanya.

Boleh aku berhenti sementara?
Aku hanya akan meminta kita berfoto berdua
Yang tak disangka mungkin akan mengingatku kembali padamu.
Mungkin setelah gelar dr. tertera dinamaku.

Aku tak berniat

12 Maret 2018

Sejak senja tak lagi sama, baru saat ini aku mulai berani menulis kembali.

Mungkin, dengan tak bertegur sapa denganmu aku merasa lebih lega. Dengan begitu, aku seperti tak berada dalam lingkaranmu lagi walau nyatanya, kita hanya dipisahkan 1 meja sebelah.

Sebenarnya, aku tak bermaksud tak menegurmu. aku hanya belum siap, jika rasaku tak bertempat. Rasa ku kembali tak dianggap, rasanya sudah lama. Memang selama ini rasaku tak pernah berbalas karena jika setiap makhluk hidup hanya melihat dari fisik, benar aku kalah. Aku terlalu takut, mengatakan jika aku punya rasa. Aku takut akan penolakan yang tidak ada habisnya. Aku lelah.

Tapi nampaknya, kau belum tahu alasan sebenarnya yang butuh keberanian untuk mengatakan. Kau saat ini menilai ku dengan pikiran yang sama sekali tak beralasan. Aku tau hanya dari tatapan matamu,yang sama sekali tak sudi mengarahkan padaku. Jika kau tahu alasannya sekarang, aku mungkin belum siap menerima jawaban darimu. karena dari awal aku juga sudah tahu, jawabanmu pasti tidak. Benarkan?

Mungkin kau kira, tatapanku penuh dengan kebencian dan tak suka terhadap sikapmu. Percayalah, aku sama sekali tak berniat membencimu malah aku punya rasa sebaliknya. Tak sekecil pun niatku untuk meragu akan hal itu.

Jika kau membaca blog ini pada suatu hari nanti,
Percayalah tatapanku lebih dari sekedar teman yang kau kira
Maafkan aku jika pernah berbuat salah padamu
Aku hanya sedang sedikit kecewa