Update!!

Terimakasih yang sudah membaca karya ini di blog ini.
Sekarang aku udah pindah update di Wattpad
Bagi kalian yang masih mau mengikuti karyaku
Bisa baca karya aku di https://www.wattpad.com/user/ayumayangsari
Sekarang aku lagi menggeluti satu judul, kemungkinan diikuti judul yang mungkin segera ditulis

Semoga impian ku untuk bikin sebuah buku tercapaii
Mohon doa dan dukungannya ya teman temann

Dengan baca karya aku di Wattpad kalian udah sangat membantu

TOO GOOD AT GOODBYE

Iklan

DIAM

DIAM

Jika diam itu emas
Mengapa begitu menyakitkan?
Jika diam itu lebih baik
Mengapa memperburuk keadaan?

Kita begitu cinta dengan senda
Kita begitu sayang dengan tawa
Kita begitu peduli dengan gurauan

Betapa pedihnya melawan rindu
Ketika semua itu sirna
Dalam waktu sekejap mata
Kita begitu dingin pertemuan
Kita begitu acuh dengan pembicaraan

Diam seakan menjadi boomerang
Ketika realita berbicara
Diam seakan menjadi batas pendekatan
Ketika mata kita berbicara

Teruntuk diam
Masihkah kau tega melihat kita tetap seperti ini?
Pecahkanlah sunyi
Melewati ruang rindu pelangi
Aku ingin kembali sebelum diam seperti ini

 

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 12 September 2017

Unknown

Angin berlalu ditempat ini
Masih dengan hawa yang sama
Saat kita dulu disana
Duduk diantara pojokan
Berimpi kita bisa kembali ditempat ini
Dalam keadaan yang sama

Tapi tidak
Tidak untuk kali ini
Kita memilih keluar untuk berhenti
Berhenti untuk saling menyakiti
Pada waktunya kita sadar
Bahwa kita belum tepat
Memilih jalan kembali

Jikalau kita tak sengaja
Bertemu ditempat ini
Doakan saja
Aku telah bahagia
Dengan seseorang yang lebih baik darimu
Pertanda rasaku telah tiada

Janganlah kembali
Untuk menghancurkan lagi

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 11 September 2017

Lelah.

Tanpa disadari rasanya hilang
Rasa itu hilang
Setelah mendengar kabar burung berkicau
Tadinya ia selalu ditunggu
Sekarang hanya berlalu

Penghilang rasa karna kecewa
Pahitnya rasa berbuah mati rasa
Terima kasih
Sudah sempat mewarnai hatiku “lagi”
Meskipun setelah patah yang sekian kali

Seringkali tersadar
Ketidakmungkinan tetaplah ketidakmungkinan
Betapa tinggi batasnya untuk ku lihat
Terlebih lagi jika harapan memberiku isyarat
Agar aku paksakan menggapai nya

Sudah terluka oleh masa lalu
Kini aku harus merasakan luka yang sama
Menitipkan duka dibalik senyum
Kukira ia berbeda
Ternyata sama saja

Aku keliru karna mempercayakan hal yang sama
Kepada orang yang salah
Inginku terlalu tinggi
Berharap ia bisa menjaga hati ini
Tapi ku salah
Sebab ia sudah menemukan tempat
Tempat yang bukan hati ini sediakan

Langit Tanpa Awan

Langit bersorak
Meminta awan menutupinya
Meminta awan melindunginya
Meminta awan menyukainya kembali

Langit ingat
Betapa riangnya langit ketika awan ada
Betapa cerahnya langit ketika awan ada
Betapa sempurnya langit ketika awan melengkapi

Langit kesepian
Melihat bulan dan bintang
Melihat senja dan oranye
Mereka selalu berpasangan
Sedangkan langit menatapi kesendiriannya
Awan tak pernah kembali untuk langit
Awan yang selalu muncul bersamaan bersama matahari dan langit
Kini hanya langit dan matahari saja

Waktu demi waktu
Hari demi hari
Langit bertebaran sendirian
Menunggu awan
Masih berharap awan mau kembali
Ketika langit sudah lelah berharap
Dan kini langit sudah terbiasa matahari
Dengan mudahnya awan datang kembali
Merayu sang langit untuk berpasangan kembali dengannya
Sang langit yang tadinya sudah hampir sempurna
Tanpa adanya awan
Dikandaskan oleh bimbang

Tak kuasa menerima drama sang langit dan Awan
Matahari diam menjauhi
Keberadaan matahari
Hanya melihat tanpa berkomentar
Sabar mengamati
Tanpa mengeluhkan kabar
Disinilah aku berperan
Hanya sebagai matahari

 

© Ayu Mayangsari | Pontianak, 2 September 2017

Sekedar Patah

Ketika kau sadar
Kepercayaan dirimu sudah mencapai batas
Dan sekira nya kau siap untuk dihempaskan ke bawah

Kau pasti tak mengerti
Mengapa semua ini terjadi?
Aku pun mempunyai jawaban yang sama
Aku tak tahu

Cinta memang tak bisa ditebak, diprediksi
Maupun di ulang terhadap rasa yang sama

Kepercayaan diriku meruntuhkan segalanya
Terlalu menaruh kepercayaan terhadapnya
Aku telah mengambil langkah yang penuh duri tajam
Siap datang menusukku saat aku ingin menghampirinya
Semakin dekat jarak ini
Semakin derita tubuh ini tergores duri

Dia sedang berdiri
Menunggu sang idaman
Sedangkan aku juga sedang berusaha
Menghampiri dia yang sedang menunggu

Saat dua orang yang sedang menunggu
Tapi menunggu dua orang lain
Datang dan menghampiri
Aku sendiri pun hanya bisa diam
Tak bernyali
Bayangkan ketika aku bernyali
lalu dia kembalikan lagi
Senyuman patah kembali terbaca di wajahku

Apakah ini sebuah hukuman
Ataukah aku hanya menempatkan hati pada orang yang salah
Mematahkan sepatah hati yang baru saja memulai
Meskipun aku tau
Aku akan mendapat kesialan yang sama
Tapi percayalah
Aku tak pernah jera dengan patahnya sepatah hati
Justru kepatahan itulah yang membuatku tak bisa merasakan apapun
Saat jatuh kepatahan paling dalam

© Ayu Mayangsari | Ketapang, 29 Agustus 2017

Terima Kasih Telah Mematahkan Hatiku.

Karena kau, aku lebih paham apa artinya nyeri. Terlebih karena aku menjalaninya sendiri.

Kepada yang sudah menjadi asing dan entah. Terima kasih karena pernah singgah. Datang sekadar mengenalkan apa artinya indah. Meski lalu pergi. Kemudian hanya menyisakan nyeri.

Kepada yang sudah menjadi masa lalu. Terima kasih karena pernah menjanjikan masa depan. Setidaknya aku belajar kecewa. Lalu kemudian, bersiap-siap patah sampai dasar terendah.

Kepada yang sudah membuat patah. Terima kasih telah memberi kesempatan hatiku runtuh sampai tak bersisa. Sepertinya, dunia ini sekejap hitam, lalu berangsur abu-abu. Lalu aku harus berjuang sendiri, mencari warna untuk masa depanku nanti.

Kepada kau, yang mungkin nanti membaca ini. Terima kasih telah memberiku alasan untuk membuka diri. Menuliskan semua luka lalu berniat menyembuhkannya.

“Kau tahu, bahwa pada satu titik dalam hidupmu, hati perlu untuk patah. Untuk tahu apa arti berjuang menuju tidak menyerah. Untuk menemukan ia yang bersedia berjalan searah.

Kelak nanti, ia yang seharusnya bersamamu, harus mendapatkan seorang yang mencintai dirinya sendiri. Meski hatinya pernah merasa patah. Meski pernah merasa dunia ini tak pernah memihaknya.”

 

Sc : Via Tumblr
© Tia Setiawati | Tangerang, 22 Agustus 2017